Total Tayangan Laman

Sabtu, 02 April 2011

Xuan Zang, Bhikshu Tang San Zang Asli dalam Sejarah

Siapa pun pasti mengenal sosok bhikshu yang dikenal sebagai Tang San Zang (Tong Sam Cong). Bhikshu dengan nama asli Xuan Zang (Hsuan Tsang) ini terkenal sebagai guru dari siluman kera batu Sun Wu Kong (Sun Go Kong) dalam kisah Perjalanan ke Barat karya Wu Cheng En (di Indonesia telah ditayangkan filmnya dengan judul Kera Sakti). Namun sesungguhnya kisah asli perjalanan ke India yang dilakukan oleh Xuan Zang untuk mencari kitab suci dalam sejarah lebih dari sekedar khayalan penulis novel. Xuan Zang benar-benar pernah hidup di Cina dan mengadakan perjalanan ke barat, namun tanpa disertai para muridnya yang merupakan siluman atau titisan dewa, melainkan seorang diri bahkan tanpa seizin kaisar Tang. Oleh sebab itu, di sini akan dibahas tentang kisah hidup Xuan Zang dan perjalanannya ke India sesuai dengan catatan sejarah beserta sedikit uraian tentang ajaran beliau.

kehidupan awal

Siapa pun pasti mengenal sosok bhikshu yang dikenal sebagai Tang San Zang (Tong Sam Cong). Bhikshu dengan nama asli Xuan Zang (Hsuan Tsang) ini terkenal sebagai guru dari siluman kera batu Sun Wu Kong (Sun Go Kong) dalam kisah Perjalanan ke Barat karya Wu Cheng En (di Indonesia telah ditayangkan filmnya dengan judul Kera Sakti). Namun sesungguhnya kisah asli perjalanan ke India yang dilakukan oleh Xuan Zang untuk mencari kitab suci dalam sejarah lebih dari sekedar khayalan penulis novel. Xuan Zang benar-benar pernah hidup di Cina dan mengadakan perjalanan ke barat, namun tanpa disertai para muridnya yang merupakan siluman atau titisan dewa, melainkan seorang diri bahkan tanpa seizin kaisar Tang. Oleh sebab itu, di sini akan dibahas tentang kisah hidup Xuan Zang dan perjalanannya ke India sesuai dengan catatan sejarah beserta sedikit uraian tentang ajaran beliau.

Kehidupan Awal

Sekitar tahun 600 M di desa Chen He di Provinsi Henan saat cuaca dingin dan kering, Chen Yi dilahirkan. Tidak ada yang menyangka anak bungsu keluarga Chen tersebut akan tumbuh menjadi seorang cendikiawan dan peziarah Buddhis yang ternama, Xuan Zang.

Keluarga Chen secara turun-temurun menghasilkan pejabat dan sarjana Confusius. Chen Yi juga diharapkan agar dapat mengikuti jejak leluhurnya. Untungnya, ayahnya Chen Hui sangat tertarik dalam ajaran Buddha dan mempelajari kedua ajaran ini di rumah. Ini banyak mempengaruhi Chen Yi kecil, dan ketika kakak keduanya menjadi bhikshu di vihara Jing Tu, ia juga pergi ke sana untuk mempelajari dan menjalankan ajaran Buddha. Pada tahun yang sama, ketika baru berusia 6 tahun, ia menjadi seorang samanera. Biasanya, hanya anak kecil yang telah berusia paling kurang 7 tahun yang diizinkan untuk ditahbiskan sebagai samanera. Namun, Chen Yi dapat menyelesaikan ujian yang sulit dengan tepat dan oleh sebabnya ditahbiskan dalam Sangha sebagai pengecualian, dengan memakai nama Buddhis "Xuan Zang".

Ia mempelajari ajaran Theravada dan Mahayana di vihara Jing Tu dan menunjukkan kecenderungan pada ajaran Mahayana. Sejak usia belia, kecerdasan Xuan Zang yang luar biasa terlihat. Hanya dengan mendengar uraian pada suatu sutra satu kali saja dan mempelajarinya sendiri pada waktu lain, ia dapat mengingat keseluruhan sutra tersebut. Ini luar biasa karena biasanya suatu sutra mengandung jutaan kata. Para bhikshu lainnya memujinya sebagai jenius. Saat ayahnya meninggal pada tahun 611 M, ia dan kakaknya terus mendalami ajaran Buddha di vihara Jing Tu sampai ketidakstabilan politik memaksa mereka untuk mengungsi ke kota Changan (sekarang Xi An). Setelah itu, ia pergi ke Chengdu di Provinsi Sichuan untuk mendalami lebih lanjut ajaran Buddha yang membuatnya bertambah pengetahuan dan berkembang nama baiknya. Pada usia 20 tahun, Xuan Zang ditahbiskan sebagai bhikshu.

Semakin banyak Xuan Zang belajar semakin ia tidak puas dengan kualitas kitab-kitab Buddhis yang ada. Terdapat banyak terjemahan yang berbeda atas suatu sutra, kebanyakan bertentangan satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan karena penerjemahan kitab Buddhis tersebut kebanyakan dilakukan oleh para bhikshu luar dari India atau negeri lainnya. Halangan bahasa merintangi terjemahan yang akurat, ditambah lagi masing-masing penerjemah memiliki pengertian yang berbeda atas kitab aslinya, yang cukup sulit dipahami. Perbedaan aliran dalam agama Buddha juga memperumit proses penerjemahan karena pengikut masing-masing pengikut memiliki pandangan yang berbeda atas ajaran Buddha, yang sering diperdebatkan oleh pengikut aliran lain.

Sesungguhnya pada awal abad ke-7 M Cina telah menjadi "medan pertempuran" antara para pengikut aliran Yogacara, yaitu antara ajaran Yogacara berdasarkan karya Asanga dan ajaran yang sama berdasarkan karya Vasubandhu. Xuan Zang berpikir perdebatan antara keduanya disebabkan oleh tidak tersedianya kitab-kitab penting aliran Yogacara dalam bahasa Cina. Jika Yogacarabhumi-sastra, kitab yang menjelaskan tahapan dalam Yogacara untuk mencapai Pencerahan yang ditulis oleh Asanga tersedia dalam bahasa Cina, ia pikir ini dapat menyelesaikan semua perdebatan ini. Pada abad ke-6 M bhikshu India bernama Pamartha telah menerjemahkan sebagian isi kitab ini. Namun Xuan Zang bertekad untuk mendapatkan versi lengkap kitab ini langsung dari tanah kelahiran Buddha, India.

Semua ini membawa Xuan Zang pada kesimpulan bahwa untuk mendapatkan pemahaman yang benar, ia harus pergi ke barat untuk mendapatkan kitab suci asli agama Buddha.

Seakan-akan karma baik Xuan Zang berbuah, seorang murid dari bhikshu kepala Silabhadra yang merupakan pemimpin dan bhikshu tertinggi dari Universitas Nalanda tiba di Changan melalui perjalanan laut. Ketika sang murid mengetahui bahwa Xuan Zang sedang merencanakan perjalanan ke India, ia mengatakan: "Untuk memahami makna sesungguhnya dari kitab-kitab suci, kamu harus pergi ke Universitas Nalanda dan belajar di bawah bhikshu Silabhadra." Demikianlah, Xuang Zang menetapkan tujuan perjalanannya ke Universitas Nalanda yang tak lain adalah vihara Halilintar di surga Barat dalam kisah rekaan Perjalanan ke Barat. 
Perjalanan ke Barat

Pada tahun 629 Xuan Zang memulai perjalanan bersejarahnya. Saat itu Kaisar Tang Zhen Guan baru naik tahta 3 tahun. Bangsa Gokturks (Turki Timur) terus-menerus menyerang perbatasan barat Cina, oleh sebab itu pemerintah menutup jalan menuju barat, melarang siapa pun kecuali para pedagang dan orang asing melakukan perjalanan ke arah tersebut.

Pada waktu itu Xuan Zang dan beberapa bhikshu lain dengan tujuan yang sama mengajukan permohonan izin untuk melewati perbatasan (yang disebut "guo shuo" atau paspor) kepada pemerintah, tetapi ditolak. Para bhikshu lainnya menyerah, namun Xuan Zang memutuskan untuk secara diam-diam keluar dari Changan. Dalam perjalanan ia dihentikan di Liang Zhou karena ia tidak punya paspor. Seorang kepala bhikshu menolongnya meloloskan diri. Ia mengendarai kudanya siang dan malam hingga akhirnya sampai di Gua Zhuo. Pada saat yang sama titah pemerintah yang memerintahkan penangkapannya juga sampai di sana. Untungnya, para pejabat di sana yang adalah seorang umat Buddha yang taat menunda titah tersebut dan melepaskan Xuan Zang.
Walaupun berhasil lolos dari tangkapan pemerintah, bahaya sebenarnya masih menanti Xuan Zang. Tidak seperti dalam kisah Perjalanan ke Barat di mana bahaya tersebut datang dari para siluman yang hendak membunuh dan memakan dagingnya, bahaya yang dihadapi Xuan Zang lebih "membumi", tetapi tak kalah mematikannya. Setelah melewati Gansu, Lanzhou, dan Dunhuang di akhir Tembok Besar, ia mengambl jalan ke cabang utara Jalur Sutra melewati Yu Men Guan untuk menuju ke Gurun Gobi, bahaya pertama yang akan ia hadapi. Gurun Gobi yang luas dan kering dengan suhu yang ekstrem, panas menyengat di siang hari dan dingin membeku di malam hari, merupakan hal yang mematikan bagi penjelajahnya ditambah lagi dengan tipisnya persediaan air, makanan, dan tempat berlindung. Saat Xuan Zang memacu kudanya ke gurun tersebut , ia melihat tulang belulang manusia, sisa-sisa para penjelajah yang tersesat dan menemui ajalnya di tengah-tengah hamparan pasir tersebut.

Selain bahaya dari kondisi alam, terdapat juga lima menara jaga di Gurun Gobi. Para penjaga menara tersebut diperintahkan untuk memanahi dan membunuh para penjelajah tanpa paspor. Ketika Xuan Zang berusaha menyelinap, ia hampir terbunuh oleh tembakan anak panah. Dalam upaya menghindari menara jaga tersebut, ia tersesat dan mengembara selama berhari-hari tanpa air dan makanan. Ia hampir tewas ketika tunggangannya, seekor kuda yang sering menjelajahi gurun, menariknya ke sebuah mata air yang dapat menyelamatkan hidupnya. Tercatat dalam buku biografinya yang ditulis oleh para muridnya, pada malam kelima ketika Xuan Zang terbaring di atas pasir dan tidak dapat bergerak sama sekali, ia bermimpi seorang laki-laki tak dikenal dengan perawakan seperti raksasa mendatanginya dan menyuruhnya untuk bangun dan berjalan. Setelah Xuan Zang dapat berdiri dengan kedua kakinya dan berkelana tanpa tujuan sampai jarak tertentu, kudanya tiba-tiba meringkik kesenangan dan berlari ke arah tertentu, yang membawanya ke sebuah mata air yang kemudian menyelamatkan hidup Xuan Zang. Tokoh Sha Wu Jing, murid ketiga Xuan Zang dalam kisah Perjalanan ke Barat yang ditulis Wu Cheng En diinspirasi dari mimpi Xuan Zang ini.

Setelah dapat lolos dari maut, Xuan Zang sampai di kota oasis Kumul dan mengikuti lembah Sungai Chu menuju Asia Tengah. Kemudian ia sampai di Turfan yang saat itu dikenal dengan nama Kerajaan Gao Chang. Raja Turfan adalah seorang umat Buddha yang taat dan bermaksud untuk menjadikan Xuan Zang sebagai bhikshu kepala di negerinya. Gagal menahan Xuan Zang di negerinya, raja Turfan mengirim empat orang samanera dan dua puluh lima orang lainnya untuk melakukan perjalanan bersama Xuan Zang.

Setelah meninggalkan Turfan, Xuan Zang beserta rombongannya menuju Kara-shahr yang kemudian dilanjutkan ke Kucha. Kucha merupakan kota oasis yang terkenal dengan kuda-kudanya yang menakjubkan. Tanahnya subur dan sangat cocok untuk lahan pertanian. Di Kucha terdapat 100 buah vihara dengan lebih dari 5000 bhikshu Sarvastivadin. Semua vihara tersebut dihiasi dengan patung-patung Buddha yang diparadekan pada hari-hari khusus dalam upacara pengusungan rupang. Raja Kucha menyelenggarakan perayaan lima tahunan yang sebelumnya telah dilakukan sejak zaman Raja Asoka di mana setiap lima tahun sekali pemberian dana besar-besaran dilakukan untuk Sangha. Di luar pintu gerbang kota Xuan Zang melihat adanya dua buah patung Buddha setinggi 90 kaki dan di depannya dibangun tempat khusus untuk perayaan lima tahunan tersebut. Setelah tinggal di sana selama 2 bulan, ia melanjutkan perjalanan ke Aksu dan melintasi Gunung Ling.

Ketika melewati Gunung Ling yang banyak ditutupi gletser, sepertiga rombongan Xuan Zang tewas. Yang paling beruntung tewas seketika ketika mereka tertimpa bongkahan es yang berasal dari gletser yang pecah ditiup angin. Yang lainnya tertimbun salju longsor. Beberapa lainnya, saat berjalan di jalan es yang berbahaya, kehilangan pijakan mereka dan terjatuh. Yang lainnya lagi tewas karena membeku. Beberapa jatuh ke dalam retakan gletser. Namun dengan tekad yang kuat untuk sampai di India, Xuan Zang dapat melanjutkan perjalanannya menuju Pegunungan Tian Shan dan sampai di daerah Kirgistan melalui Celah Bedal.

Ia melewati pantai dari danau Issyk Kul di Kirgistan yang merupakan danau di atas pegunungan dengan ketinggian 5200 kaki dari permukaan laut dan danau terbesar di dunia seluas 6200 km persegi. Lalu melanjutkan perjalanan ke arah barat laut, ia melewati daerah danau Kyrgyz dari Myn-bulak, yang dikenal sebagai "Seribu Mata Air". Berjalan ke arah barat ia melintasi kota Tartar dari bangsa Tara dan negeri Nujkend di Chatkal dan tiba di Tashkent di Uzbekistan Timur yang dikuasai oleh bangsa Hun. Pemberhentian berikutnya adalah Samarkand, sebuah negeri yang berpenduduk padat yang terletak di pertemuan jalur perdagangan kuno Cina dan India. Kota ini merupakan pusat perdagangan di Jalur Sutra di mana para pedagang menukarkan barang dagangan mereka. Menurut Xuan Zang:

"Barang-barang dagang dari berbagai negeri disimpan di sini. Para penduduknya mahir dalam kesenian dan berdagang melebihi penduduk negeri lain. Orang-orang di sini pemberani dan bersemangat tinggi serta dicontoh oleh orang-orang negeri sekitar dalam hal keramah-tamahan dan sopan santunnya."

Dari Samarkand sang peziarah melanjutkan ke Kesh (Karshi) dan berjalan ke selatan memasuki daerah pegunungan. Setelah mendaki jalan yang curam dan terjal, ia sampai di Gerbang Besi, sebuah celah pegunungan yang batas kiri kanannya terdapat dinding tinggi berbatu yang berwarna seperti besi. Di sini pintu kayu ganda telah dibuat dan banyak lonceng dipasang di sana. Pintu-pintu ini dikuatkan dengan besi dan tahan serangan. Karena perlindungan yang diberikan pada celah tersebut ketika pintu-pintu ini ditutup, celah ini disebut Gerbang Besi. Kemudian ia sampai di Tukhara, sebuah negeri yang dikuasai bangsa Turki, dan menyeberangi sungai Oxus (Amur Darya) di dekat Termez, ia tiba di Kunduz di Afghanistan. Di sini Xuan Zang bertemu dengan putra tertua dari Khan raja bangsa Turki, kakak ipar dari raja Turfan, di mana Xuan Zang memperoleh surat izin darinya.

Setelah beberapa lama bersinggah, Xuan Zang melanjutkan perjalanan bersama beberapa bhikshu dari Balkh ke kota tersebut yang merupakan bekas ibukota dari kerajaan Bactria, kerajaan Raja Milinda dalam Milinda Panha. Di negeri ini terdapat 1000 vihara dan 3000 orang bhikshu. Di sini ia mengunjungi Nava Vihara (yang berarti "Vihara Baru", sekarang dikenal sebagai Navbahar) yang terkenal di mana ia mendapatkan kitab Mahavibhasa (penjelasan Abhidharma) dan mempelajari ajaran Theravada di bawah seorang guru bernama Prajnakara. Setelah memberikan penghormatan pada relik-relik suci di sana, Xuan Zang berangkat dari Balkh melalui jalan yang berbahaya dan sulit menuju pegunungan Hindu Kush dan sampai di Bamiyan.

Di Bamiyan orang-orang meyakini Tri Ratna, tetapi masih memuja ratusan dewa di mana para pedagang memberikan persembahan ketika keberuntungan usahanya memburuk. Di sini terdapat 10 vihara dengan sekitar 1000 bhikshu aliran Lokuttaravadin. Di sini juga Xuan Zang menyaksikan dua buah patung Buddha raksasa dengan tinggi sekitar 55 dan 35 meter masing-masing, yang diukir di sisi gunung pada abad ke-4 dan ke-5 M. Saat itu Xuan Zang salah mengira patung yang kecil terbuat dari perunggu karena permukaannya yang dilapisi perunggu. Ia juga melihat sebuah patung Buddha berbaring dan memberikan penghormatan pada beberapa relik gigi Sang Buddha. (Sayangnya kini patung Buddha raksasa peninggalan sejarah tersebut telah dihancurkan pemerintah Taliban pada tahun 2001).

Berjalan ke arah timur, Xuan Zang memasuki celah pegunungan Hindu Kush dan menyeberangi bukit Siah Koh, ia sampai di negeri Kapisa. Di sini terdapat kurang lebih 100 vihara dengan 6000 bhikshu Mahayana dan sebuah vihara besar dengan 300 bhikshu Theravada. Di sini juga ditemukan 10 kuil dewa dengan sekitar 1000 pertapa Hindu dari berbagai aliran seperti pertapa telanjang (Digambara), pertapa yang menutupi tubuhnya dengan abu (Pasupata), dan pertapa yang memakai manik-manik dari tulang di kepala mereka (Kapaladharina). Setiap tahun raja akan membuat patung Buddha perak dan memberikan dana kepada orang-orang miskin, papa, dan yang ditinggal sendiri. Setelah menghabiskan musim panas tahun 630 M di Kapisa, Xuan Zang pergi ke Nagarahara (Jalalabad). Di sini ia menemukan banyak vihara tetapi dengan sedikit bhikshu. Stupa-stupa telah rusak dan tinggal reruntuhan. Ia mengunjungi gua Naga Gopala yang menurut legenda pernah terdapat bayangan Sang Buddha yang ditinggalkan-Nya setelah menaklukkan sang naga. Di vihara yang menyimpan relik tulang kepala, ia menemukan bahwa penjaga di sana adalah para brahmana yang ditunjuk oleh raja dan mereka meminta para peziarah sejumlah uang masuk agar dapat melihat relik tersebut.
Mengunjungi Tempat-Tempat Suci Agama Buddha di India

Berjalan ke arah utara, sang peziarah tiba di Sravasti (Savatthi) dan mengunjungi daerah Maheth di mana ia melihat stupa Sudatta yang menandai tempat tinggal Anathapindika dan di sampingnya terdapat stupa Angulimala. Di Saheth, ia menemukan vihara Jetavana, tempat Sang Buddha biasanya berdiam di Sravasti, kini tinggal reruntuhan dan ditinggalkan. Dari Sravasti ia menuju Kapilavastu, ibukota kerajaan Sakya kuno; Lumbini, tempat kelahiran Siddhartha Gautama; Ramagama yang telah ditinggalkan selama bertahun-tahun; dan Kusinara, tempat mangkatnya Sang Buddha.

Berjalan ke selatan sekitar 500 li, melalui hutan rimba yang luas, ia tiba di Varanasi (Baranasi atau Benares), kota suci umat Hindu. Di sana terdapat 30 vihara dengan 3000 bhikshu, tetapi lebih dari 100 kuil dewa dengan 10.000 pertapa ajaran lain, kebanyakan adalah pemuja Siva. Di taman rusa di Sarnath, Xuan Zang mengunjungi sebuah vihara dengan 1500 bhikshu aliran Sammitiya dan menghormati stupa di sana. Menelusuri aliran sungai Gangga ke timur menuju Ghazipur, kemudian ke arah timur laut, ia tiba di kota Vesali di mana terdapat beberapa ratus vihara yang kebanyakan sudah rusak dengan sangat sedikit bhikshu. Kota tersebut dalam kehancuran dan praktis ditinggalkan. Xuan Zang juga melihat pilar Asoka dengan singa besar di atas dan di sampingnya, stupa yang didirikan Raja Asoka. Di dekat pilar tersebut terdapat sebuah kolam yang digali oleh sekelompok monyet untuk digunakan oleh Sang Buddha dan jauh ke selatan terdapat stupa yang menandai tempat di mana para monyet, setelah mengambil mangkuk Sang Buddha, memanjat sebuah pohon dan mengumpulkan madu untuk Beliau. Berjalan ke arah barat laut, ia melewati negeri Vajji dan menuju Nepal. Kemudian kembali ke Vesali dan menyeberangi sungai Gangga, ia tiba di kerajaan Magadha.

Pataliputta (Patna), ibukota kerajaan Magadha selama masa Raja Asoka sedang dalam kemunduran. Di sana terdapat 50 vihara dengan sekitar 10.000 bhikshu, kebanyakan beraliran Mahayana. Di kota tua tersebut Xuan Zang melihat ratusan vihara, stupa dan kuil dewa tinggal reruntuhan. Xuan Zang juga mengunjungi vihara Kukkutarama yang dibangun oleh Raja Asoka, namun bangunannya telah runtuh dan hanya tinggal fondasi dinding yang tersisa. Berjalan ke selatan, ia melewati vihara Tiladaka di mana para sarjana dan cendikiawan datang untuk belajar agama Buddha. Di dalam salah satu bangunannya ia melihat patung Tara dan Avalokitesvara didirikan di samping patung Sang Buddha, yang menandakan pengaruh Tantra dalam agama Buddha.

Kemudian ia sampai di sungai Neranjana dan menyeberanginya, sampai di Gaya. Di sini ia mengunjungi Pragbodhi di mana Bodhisattva Gautama menjalankan pertapaan keras selama 6 tahun, desa Sujata, hutan Uruvela, dan Bodhgaya, tempat Bodhisattva mencapai Pencerahan. Lalu ia berjalan ke Rajagaha di mana ia mengunjungi tempat-tempat suci seperti Puncak Burung Nazar, Hutan Bambu, sumber mata air panas, rumah batu Pippala, dan gua Sattapanni, tempat diadakannya Konsili Buddhis Pertama.

Setelah mengunjungi berbagai tempat-tempat yang berhubungan dengan kehidupan Sang Buddha, Xuan Zang pun tiba di Nalanda, tujuan utama perjalanannya ke India.
Belajar di Universitas Nalanda

Xuan Zang sampai di Nalanda sekitar tahun 635 dan mendaftar di pusat belajar agama Buddha tertua di dunia di sana untuk memenuhi tujuannya datang ke India. Untuk dapat menjadi siswa di sana, seseorang harus menyelesaikan ujian dari penjaga gerbang yang merupakan seorang petugas yang bertanggung jawab atas proses belajar di sana. Umumnya dari 10 calon siswa, 7 atau 8 orang akan gagal dalam ujian sulit ini. Namun Xuan Zang yang telah memiliki fondasi pengetahuan Buddha Dharma yang kuat dapat lolos ujian masuk dan diterima sebagai siswa Universitas Nalanda.

Universitas Nalanda juga merupakan vihara terbesar di seluruh India. Para siswa terbaik Buddhis berkumpul di sini, beberapa dari mereka berasal dari negeri asing seperti Xuan Zang. Pimpinan Universitas Nalanda saat itu adalah bhikshu kepala Silabhadra yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Beliau telah menguasai semua kitab suci dan teks Buddhis sehingga ia diberi gelar "Zheng Fa Zang". "Zang" merupakan bahasa Mandarin untuk "Pitaka" atau keranjang bambu yang digunakan untuk menampung kelompok kitab suci agama Buddha yang ditulis di atas daun lontar. Dengan demikian Tripitaka (atau "San Zang" dalam bahasa Mandarin) merupakan nama untuk kumpulan tiga keranjang bambu besar yang memuat seluruh kitab suci agama Buddha.

Seseorang yang menguasai seluruh kitab suci agama Buddha beserta arti setiap kitab tersebut diberi gelar "Zheng Fa Zang". Seseorang yang menguasai sedikitnya 50 kitab Buddhis diberi gelar "San Zang" (Tripitaka). Ini bukan kemampuan yang biasa saja, karena setiap kitab mengandung jutaan kata dan artinya sangat sulit dan mendalam. Di antara puluhan ribu bhikshu di Universitas Nalanda, hanya sekitar 1000 orang yang telah menguasai 20 kitab dan sekitar 500 yang menguasai 30 kitab. Kemudian hanya 9 orang yang menguasai 50 kitab dan mendapat gelar "San Zang" dan tentu saja hanya Bhikshu Silabhadra seorang yang menguasai semua kitab suci.

Namun demikian, aturan di Universitas Nalanda menyatakan harus terdapat sedikitnya 10 orang "San Zang" di sana. Saat itu Bhikshu Silabhadra sangat berkenan menjadikan Xuan Zang muridnya. Beliau mengajarkan Xuan Zang tentang Yogacarabhumi-sastra yang menghabiskan waktu 17 bulan untuk menjelaskan secara lengkap isi sebuah kitab saja. Setelah banyak belajar dan kerja keras, Xuan Zang dapat menguasai 50 kitab suci Buddhis dan menjadi "Sang Zang" ke-10. Hal ini berbeda sekali dengan kisah Perjalanan ke Barat di mana Xuan Zang mendapat gelar "San Zang" dengan mudah, yaitu diberikan oleh kaisar Tang.

Selain mempelajari ajaran Buddha di Nalanda, Xuan Zang juga mempelajari filosofi Hindu dan menguasai bahasa Sanskerta.

Pada tahun 638 Xuan Zang menghentikan studinya di Nalanda dan bermaksud untuk pergi ke Sri Lanka guna mempelajari lebih dalam ajaran Theravada. Ia berjalan ke Champa (Bhagalpur) dan Bengal Barat, tiba di Tamralipti di mana ia bermaksud mengambil jalur laut ke Sri Lanka. Namun di sana ia diberitahu bahwa akan lebih mudah mencapai Sri Lanka melalui India Selatan, maka ia memutuskan untuk mengambil jalur darat ke India Selatan. Berjalan ke arah tenggara Xuan Zang melewati negeri Orissa yang memiliki beberapa ratus vihara dengan 10.000 bhikshu Mahayana dan Kalinga di mana para pertapa terutama Nigantha lebih dominan. Kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju Kosala, tanah kelahiran Nagarjuna, pendiri ajaran Madhyamika, dan Andhara serta tiba di Amaravati. Di sini terdapat banyak vihara namun ditinggalkan dan telah runtuh. Ia menyaksikan dua bangunan di atas dua batu karang, satu di timur disebut Purvasaila (Karang Timur) dan yang lain di barat disebut Aparasaila (Karang Barat). Keduanya dulu didiamikan oleh para bhikshu, tetapi saat itu telah ditinggalkan dan ditumbuhi semak liar.

Setelah menghabiskan musim hujan di Amaravati, Xuan Zang melanjutkan perjalanan ke selatan melewati negeri Chola yang digambarkannya sebagai "telah ditinggalkan dan ditumbuhi semak liar, rawa dan hutan belantara, dengan penduduk yang sedikit dan sekelompok penjahat yang berkeliaran dengan bebas." Kemudian berjalan ke selatan melalui daerah hutan rimba dan berjalan 1.500 li, ia tiba di negeri Dravida.

Di ibukota Kanchipuram (di dekat Madras) terdapat sekitar 100 vihara dengan 10.000 bhikshu Mahayana. Di sini Xuan Zang mengetahui bahwa Sri Lanka sedang mengalami kekacauan dan bencana kelaparan setelah kematian rajanya. Maka ia melepaskan angan-angan untuk pergi ke pulau tersebut. Ia kemudian berjalan ke arah utara, memasuki hutan dan melewati banyak desa yang telah ditinggalkan di mana para penjahat berkeliaran mencari korban. Setelah berjalan 2.000 li tanpa menemui bahaya, sang peziarah sampai di Konkanapura (Golconda di dekat Hyderabad) di mana terdapat sekitar 100 vihara dengan 10.000 bhiksu baik Mahayana maupun Theravada. Dari Konkanapura ia memasuki negeri yang berbahaya yang dihuni oleh hewan buas dan para perampok, dan tiba dengan selamat di negeri Maharashtra di mana ia mengunjungi gua terkenal yang dibentuk dari potongan batu di Ajanta. Dari Ajanta ia berjalan ke Valabhi sekitar tahun 641 melalui Bharoch, Malava, dan Kachha. Valabhi merupakan ibukota kerajaan Maitraka di Gujarat dan sebuah pusat belajar dan perdagangan. Menurut Xuan Zang:

"Di sini terdapat sekitar seratus keluarga yang memiliki kekayaan seratus lakh (juta). Barang-barang yang langka dan berharga dari daerah-daerah yang jauh disimpan di sini dalam jumlah besar."

Ia mengunjungi sebuah vihara besar di mana dua orang guru Mahayana terkemuka, Sthiramati dan Gunamati pernah tinggal dan menulis kitab ulasan mereka. Berjalan ke arah barat, ia melewati Surashtra dan Gurjjara sebelum tiba di Ujjain (Ujjeni), ibukota Avanti. Di sini terdapat banyak vihara, tetapi kebanyakan hancur dan hanya terdapat 300 bhikshu tersisa. Berjalan ke barat, ia melintasi Sindhus di mana ia menyaksikan beberapa ratus vihara yang didiami oleh beberapa puluh ribu bhikshu aliran Sammatiya. Kemudian berjalan ke utara dan menyeberangi sungai Indus, ia tiba di Multan. Di sini umat Buddha dan para bhikshu sedikit. Terdapat 10 vihara, semuanya dalam reruntuhan. Pada titik ini Xuan Zang memutuskan untuk kembali ke Nalanda karena ia telah mengunjungi kebanyakan tempat suci Buddhis di India.

Kembali ke Nalanda, Xuan Zang menghabiskan waktunya mempelajari ajaran Mahayana dan ikut serta dalam debat filosofi. Setelah memperoleh pengetahuan agama Buddha yang cukup, ia berpikir untuk kembali ke tanah kelahirannya dan menyebarkan ajaran baru tersebut. Raja Assam, Kumara-raja, mendengar tentang kemampuan guru Cina tersebut dan mengundang Xuan Zang ke ibukotanya Kamarupa pada tahun 643. Saat Xuan Zang berada di Kamarupa, sang raja mendapat perintah dari raja atasannya, Raja Harsha Vardhana, untuk membawa sang bhikshu untuk menemuinya di Kajinghara, sebuah negeri kecil di tepi sungai Gangga. Saat pertemuan tersebut, keduanya menjalin hubungan yang dekat.

Harsha Vardhana mengundang Xuan Zang ke ibukotanya Kanauj di mana raja mengadakan pertemuan agama di tepi sungai Gangga, dihadiri oleh raja-raja dari 20 negeri bawahan, bersama-sama dengan para bhikshu dan brahmana. Xuan Zang ditunjuk sebagai "Ketua Diskusi". Selama tiga minggu berikutnya, Harsha memberikan dana makanan kepada para bhkshu dan brahmana setiap hari. Setelah itu, ia akan membawa patung Buddha sebesar badan manusia di atas bahunya ke atas sebuah menara di mana ia memberikan penghormatan kepada Sang Triratna dengan pemberian pakaian sutra yang dihiasi dengan batu-batu berharga. Pada hari terakhir, para pengikut ajaran lain berusaha menyabotase pertemuan dengan membakar menara tersebut dan berusaha membunuh raja dalam kekacauan yang ditimbulkan. Namun upaya pembunuhan berhasil digagalkan ketika si pelaku tertangkap oleh raja sendiri. Ia mengakui bahwa ia disewa oleh para pengikut ajaran lain dan brahmana yang iri atas penghormatan yang ditujukan raja kepada para bhikshu Buddhis. Oleh sebab itu, raja menghukum dalang di balik upaya pembunuhan ini dan mengusir para brahmana ke luar perbatasan India. Setelah itu, raja membawa tamunya ke Prayag di mana ia mengadakan perayaan lima tahunan dengan memdanakan seluruh kekayaannya yang terkumpul selama lima tahun, mengikuti teladan dari Raja Asoka.
Kembali ke Tanah Kelahiran

Setelah menyaksikan perayaan di Prayag, Xuan Zang tinggal selama 10 hari lagi bersama Harsha dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Cina. Untuk memastikan keamanan dan keselamatan Xuan Zang di perbatasan, Harsha memberinya pengawalan pasukan yang dikepalai oleh Kumara-raja. Ia kembali ke Cina melalui arah yang berlawanan dengan arah kedatangannya ke India, yaitu melalui Jalandhar, Takkasila, dan Nagarahara. Kemudian melewati Hindu Kush, ia memasuki Afghanistan utara. Berjalan ke arah barat laut, ia sampai di Badakshan dan menelusuri pegunungan dan lembah Pamirs, melewati beberapa kota di Tajikistan.

Setelah melewati barisan Sarykol yang membentuk perbatasan antara Cina dan Tajikistan, Xuan Zang sampai di Kashgar di provinsi Xinjiang. Dari Kashgar ia berjalan ke Yarkand dan Khotan. Tiba di Khotan 16 tahun setelah pertama kali ia berangkat, rombongan Xuan Zang tinggal tujuh orang saja. Perjalanan Xuan Zang ke India untuk mendapatkan kitab suci agama Buddha dan belajar Buddha Dharma dari orang-orang bijaksana di sana sungguh mengagumkan, mengingat ia melakukan perjalanan jauh tersebut hanya dengan berkuda atau jalan kaki. Selama perjalanannya Xuan Zang telah mengunjungi lebih dari 130 negeri/kerajaan yang kebanyakan adalah negeri-negeri kecil yang belum dipersatukan.

Di Xinjiang, Xuan Zang menulis sebuah surat kepada Kaisar Tang yang menggambarkan detail perjalanannya dan memohon izin untuk kembali ke tanah kelahirannya. Pada musim gugur ketika dedaunan berubah menjadi merah, surat tersebut sampai di ibukota Chang An, hanya untuk dikirim kembali ke Luo Yang di mana kaisar sedang mempersiapkan diri untuk menyerang Liao Dong. Kaisar sangat terkesan dengan kisah perjalanan Xuan Zang. Terlebih lagi, pada waktu itu kaisar membutuhkan informasi tentang negeri-negeri di sebelah barat Cina. Seperti yang kita ketahui, bangsa Gokturks terus-menerus menyerang perbatasan barat, memaksa pemerintah menutup jalan ke barat sehingga menyebabkan hubungan dengan negeri-negeri di barat terputus. Kejayaan Jalan Sutra dan pengaruh besar Cina yang dulu pernah sampai ke negeri-negeri barat kini tinggal sejarah. Kaisar mengetahui bahwa pengetahuannya tentang negeri-negeri di sebelah barat sekarang tidak cukup. Kembalinya Xuan Zang dari barat merupakan kesempatan emas bagi kaisar untuk meningkatkan pemahamannya atas negeri-negeri tetangga. Demikianlah, kaisar sendiri yang menulis surat balasan kepada Xuan Zang, yang menyambut kepulangannya ke Chang An.

Setelah mendapat surat balasan dari Kaisar Tang, ia meninggalkan Khotan dan melewati gurun Takla Makan, ia tiba di Dunhuang. Setelah berdiam beberapa lama di Dunhuang, ia kembali ke Chang An (Xian) pada tahun 645 di mana ia mendapat sambutan dan penghormatan besar dari para pejabat dan para bhikshu.

Beberapa hari kemudian kaisar mengundang Xuan Zang ke istana di mana Xuan Zang dengan tenang dapat menjawab semua pertanyaan tentang perjalanan dan pengalamannya. Sangat terkesan dengan pengetahuan dan kebijaksanaan Xuan Zang, kaisar memintanya menjadi seorang pejabat kerajaan. Tentu saja ini ditolak Xuan Zang karena ia ingin memfokuskan diri menerjemahkan kitab-kitab suci yang ia bawa pulang dan menyebarkan ajaran Buddha di Cina. Namun demikian, mengetahui keinginan kaisar untuk memperluas pengaruhnya ke negeri-negeri di sebelah barat, Xuan Zang berjanji akan menulis uraian kisah perjalanannya ke India lengkap dengan aspek politik, ekonomi, budaya, geografis, dan aspek lain dari negeri-negeri yang ia kunjungi. Maka terciptalah buku catatan perjalanan Xuan Zang yang berjudul "Perjalanan ke Barat pada Masa Dinasti Tang Agung (大唐西域記)", yang terdiri atas 12 volume dan 100.000 kata (lebih dikenal dengan judul "Catatan Tang Agung tentang Negeri-Negeri Barat"). Saat ini buku ini menjadi sumber sejarah yang sangat berharga tentang keadaan negeri-negeri di Asia Tengah pada abad ke-6 M dan hubungannya dengan Cina saat itu. (Bedakan buku ini dengan novel "Perjalanan ke Barat (西遊記)" yang ditulis pada masa dinasti Ming dan mengisahkan perjalanan Xuan Zang ke India bersama tiga muridnya.)

Dari hasil perjalanannya ke India, Xuan Zang telah berhasil kembali membawa barang-barang berikut:
• 115 butir relik Sang Buddha.
• 6 buah patung Buddha.
• 124 kitab atau sutra Mahayana.
• Kitab-kitab lain sampai berjumlah 657 kitab yang dibawa oleh 22 ekor kuda.
Untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, kaisar Tang dan ayahnya membantu Xuan Zang dalam upayanya menerjemahkan kitab suci agama Buddha, dengan menyediakan sumber daya manusia, termasuk para bhikshu terkemuka pada masa itu, dan semua perlengkapan tulis yang dibutuhkan. Ditambah lagi, sebuah pusat penerjemahan, Menara Da Yan, dibangun. Di sinilah Xuan Zang dan para pembantunya secara teratur menerjemahkan 73 kitab Buddhis, semuanya ada 1335 volume, dari bahasa Sanskerta ke bahasa Mandarin. Selain itu, ia juga menulis buku Cheng Wei Shi Lun, sebuah komentar atas teks-teks yang diterjemahkannya. Di sini Wei Shi berarti "Hanya Kesadaran", yaitu filosofi dasar dalam aliran Yogacara. Berdasarkan pemikiran aliran Yogacara ini, ia juga mendirikan aliran Fa Xiang yang populer selama masa hidup Xuan Zang dan para muridnya, namun berangsur-angsur menghilang ditelan waktu setelah kematian mereka.

Pada usia 63 tahun (sekitar tahun 664), disebabkan karena gangguan kesehatan yang timbul dari terlalu keras bekerja dan kelelahan, Xuan Zang meninggal dunia di vihara Yu Hua di Chang An. Lima tahun kemudian, menara pemakaman di Gunung Zhong Nan dapat diselesaikan dan jenazah Xuan Zang dipindahkan ke sana dengan upacara besar. Sayangnya, setelah menara tersebut dihancurkan karena perang dan selama berabad-abad kemudian sisa-sisa tubuh Xuan Zang secara bergantian ditemukan dan hilang lagi karena perang. Pada abad ke-20 ketika Jepang menyerang Cina, mereka menemukan sisa-sisa tubuh Xuan Zang di Nanking, yang terdiri atas sepotong tulang dan sebuah tas abu, dan berencana untuk membawanya ke Jepang. Pada akhirnya, setelah banyak negosiasi, sisa-sisa tubuh Xuan Zang dibagi menjadi 5 bagian, di mana satu bagian disimpan di Jepang dan sisanya disimpan di berbagai vihara dan museum di Cina. Bahkan sampai hari ini Xuan Zang masih merupakan tokoh yang dihormati dalam sejarah dunia pada umumnya dan dalam agama Buddha Mahayana pada khususnya.
Ajaran Xuan Zang

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Xuan Zang tidak hanya mempengaruhi Cina melalui kisah perjalanannya yang menakjubkan dan penuh rintangan, melainkan juga dengan pemikiran dan ajaran beliau khususnya dalam pengaruhnya terhadap agama Buddha di Cina. Beberapa pokok ajaran Xuan Zang yang bisa kita baca dari bukunya Cheng Wei Shi Lun adalah sebagai berikut:
• Metode-metode ajaran Buddhis memerlukan logika
• Gagasan metafisik seperti sifat Kebuddhaan dan Tathagata-garbha (benih Kebuddhaan dalam semua makhluk) dapat mengaburkan makna ajaran dasar Buddha.
• Yang Mutlak dalam agama Buddha, seperti Kedemikianan dan dharma yang tidak berkondisi, adalah tidak nyata, melainkan hanyalah ciptaan konseptual secara bahasa.
• Hanya apa yang bersifat sementara dan menghasilkan akibat yang dapat terlihat adalah "nyata" (dravya); "nyata" ini berlawanan dengan "tidak nyata" atau "nominal" (prajnapti).
• Kemungkinan pencapaian spiritual seseorang dibentuk oleh kombinasi benih karma yang melekat dan yang diperoleh yang selanjutnya harus diupayakan agar dapat berbuah.
• Tidak ada pertentangan antara ajaran Madhyamika dan Yogacara.

Buku Cheng Wei Shi Lun merupakan buku ensiklopedia tentang ajaran Yogacara dan perdebatannya dengan sesama aliran Yogacara maupun non-Yogacara. Di dalamnya terdapat diskusi tentang 8 kesadaran, 100 dharma, 3 karakteristik, hukum sebab musabab, dan 5 langkah menuju Kebuddhaan, serta juga berbagai topik lain yang menjadi perhatian umat Buddha di India dan Cina pada abad ke-7.

Istilah Tathagata-garbha tidak ditemukan dalam Cheng Wei Shi Lun karena dalam bukunya Xuan Zang berusaha menolak gagasan Tathagata-garbha (yang menjadi alasan para rivalnya seperti Fazang menyerang ajaran Xuan Zang). Ajaran Tathagata-garbha menggunakan perumpamaan untuk membandingkan sifat murni dan tidak berkondisi dari Tathagata-garbha dengan ruang angkasa yang tidak terbatas menjangkau ke mana-mana dan tidak menghalangi maupun dihalangi oleh apa pun. Cheng Wei Shi Lun berargumen bahwa ruang angkasa merupakan ciptaan mental yang dihasilkan oleh kebiasaan membayangkan gambaran ruang yang pernah didengar seseorang. Semua dharma yang tidak berkondisi juga merupakan ciptaan khayal dari bahasa kita, termasuk Tathagata-garbha dan sinonimnya Kedemikianan (Tathata). Bagi kebanyakan pengikut Buddhis, Kedemikianan merupakan gagasan metafisik, realitas tertinggi yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang telah mencapai Pencerahan. Chen Wei Shi Lun menyebutkan: "Dharma-dharma yang tidak berkondisi semuanya adalah rekaan nama (prajnapti) yang dibangun di atas dasar Kedemikianan dan Kedemikianan juga adalah istilah rekaan.... Kami tidak sama seperti aliran lain (yang mengakui) bahwa selain dari bentuk jasmani, pikiran, dst, terdapat dharma yang nyata dan kekal yang disebut Kedemikinan. Alih-alih, (kami mengatakan) dharma-dharma yang tidak berkondisi sesungguhnya bukan hal yang nyata."

Chen Wei Shi Lun membedakan 3 tingkat kenyataan: (1) yang sama sekali salah dan tidak nyata, yang termasuk khayalan logika, kesadaran yang salah (misalnya halusinasi), dst. (2) khayalan nominal yang merupakan ciptaan konseptual bahasa yang disalahartikan sebagai sesuatu yang nyata. Ia adalah pedang yang bermata ganda,karena khayalan ini dapat membuat orang-orang percaya dan terikat pada hal-hal yang tidak nyata, namun khayalan dari ajaran Buddhis (seperti konsep Kedemikianan) dapat membebaskan orang-orang dari khayalan ini sepenuhnya. (3) Kenyataan yang didefinisikan sebagai bersifat sementara, dihasilkan oleh sebab dan kondisi, dan menghasilkan hal-hal yang dapat diamati. Dengan demikian, hal-hal yang kekal dan tidak dapat diamati adalah tidak nyata, seperti konsep Ketuhanan dan Kedemikianan, sedangkan momen dari persepsi indra yang disadari adalah nyata. Ketiga jenis kenyataan ini lebih jauh disebut sebagai kebenaran konvensional (samvrti-satya). Apa yang merupakan kebenaran mutlak (paramartha-satya) merupakan aliran dari kondisi-kondisi sementara yang saling bergantungan (paratantra).

Ajaran Tathagata-garbha, terutama seperti yang dirumuskan oleh penerjemah Paramartha, menganggap pikiran sebagai yang nyata, yang tertinggi, penyebab eternal segala sesuatu, yang menyadari apa yang membentuk Pencerahan. Cheng Wei Shi Lun dengan tajam membedakan penggunaan istilah "hanya kesadaran" dan "hanya pikiran" dari gagasan ini. "Untuk mengatasi keterikatan terhadap pandangan bahwa di luar pikiran dan kondisi mental yang sejenis (citta caitta) terdapat objek-objek yang nyata, kami mengatakan bahwa hanya kesadaran yang ada. Jika anda terikat pada 'hanya kesadaran' sebagai sesuatu yang benar-benar ada, itu tidak ada bedanya dengan terikat pada objek indera luar, yaitu hanyalah keterikatan pada dharma lainnya," tulis Xuan Zang. Objek-objek luar ditolak untuk dapat fokus pada kenyataan bahwa apa yang diketahui secara langsung terjadi hanya dalam kesadaran; bahwa kita yang terjebak dalam cermin khayal ini adalah masalah, bukan solusi. Menghancurkan pendekatan epistemologi ini dengan mengubah kesadaran menjadi "pengetahuan langsung" (jnana) merupakan tujuan ajaran Xuan Zang.

Dengan menyatakan bahwa setiap arus kesadaran memiliki benih yang telah menyatu dengannya tanpa awal dan juga benih yang diperoleh dari pengalaman baru (yaitu yang alamiah dan hasil pengaruh luar), Cheng Wei Shi Lun menyebut adanya lima gotra atau keluarga dalam ajaran Yogacara. Benih yang telah menyatu tersebut menentukan kemungkinan ajaran yang diikuti seseorang. Tiga gotra pertama berdasarkan 3 jenis Pencerahan dalam agama Buddha, yaitu Arhat atau Sravakabuddha (seseorang yang dapat mencapai Pencerahan dengan belajar ajaran Buddha), Pratyekabuddha (seseorang yang mencapai Pencerahan tanpa bantuan orang lain dengan memahami hukum sebab musabab), dan Bodhisattva (seseorang yang mencapai Pencerahan melalui jalan Mahayana), ditambah dengan kelompok yang tidak tentu jalan Pencerahan-nya (aniyata) dan kelompok yang tidak memiliki potensi spiritual (agotra). Setiap gotra memiliki beberapa benih Pencerahan, tetapi tidak semuanya dan dengan demikian tingkat Pencerahan mereka ditentukan berdasarkan hal ini. Arhat memiliki paling sedikit, Bodhisattva paling banyak, dengan Pratyekabuddha di antara keduanya. Mereka yang memiliki benih Pencerahan yang penuh dapat menjadi Buddha. Kontroversi ajaran ini adalah penyebutan adanya golongan yang tidak memiliki benih Pencerahan dan oleh sebabnya tidak dapat mencapai Pencerahan. Ini jelas bertentangan dengan gagasan Buddhis yang terdapat dalam Nirvana Sutra dan sutra lainnya bahwa sifat Kebuddhaan adalah universal sehingga semua makhluk dapat mencapai Pencerahan. Tidak ada ajaran Cheng Wei Shi Lun yang ditentang keras oleh para lawannya selain ajaran ini.

NB: Tentu saja maksud dimasukkannya ajaran Xuan Zang di sini bukan untuk memperdebatkan apakah ajaran tersebut benar atau sesuai dengan ajaran Buddha pada umumnya, melainkan hanya sebagai pelengkap guna menambah wawasan kita tentang pengetahuan dan kejeniusan Xuan Zang, seorang penerjemah kitab suci Buddhis yang terkemuka pada zamannya (bahkan salah satu terjemahan beliau yang sering digunakan umat Buddha Mahayana adalah Prajna Paramita Hridaya Sutra). Untuk mengetahui lebih lanjut tentang ajaran Yogacara secara umum yang menjadi dasar ajaran Xuan Zang ini, silakan dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Yogacara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar