Total Tayangan Laman

Sabtu, 02 April 2011

KONG HU-CU (551 SM – 479 SM)

Tak salah lagi, Kong Hu-Cu seorang filosof besar Cina. Dan tak salah lagi, dialah orang pertama pengembang sistem memadukan alam pikiran dan kepercayaan orang Cina yang paling mendasar. Filosofinya menyangkut moralitas orang perorang dan konsepsi suatu pemerintahan tentang cara-cara melayani rakyat dan memerintahnya liwat tingkah laku teladan- telah menyerap jadi darah daging kehidupan dan kebudayaan orang Cina selama lebih dari dua ribu tahun. Lebih dari itu, juga berpengaruh terhadap sebahagian penduduk dunia lain.
Lahir sekitar tahun 551 SM di kota kecil Lu, kini masuk wilayah propinsi Shantung di timur laut daratan Cina. Dalam usia muda ditinggal mati ayah, membuatnya hidup sengsara di samping ibunya. Waktu berangkat dewasa dia jadi pegawai negeri kelas teri tapi sesudah selang beberapa tahun dia memutuskan mendingan copot diri saja. Sepanjang enam belas tahun berikutnya Kong Hu-Cu jadi guru, sedikit demi sedikit mencari pengaruh dan pengikut anutan filosofinya. Menginjak umur lima puluh tahun bintangnya mulai bersinar karena dia dapat kedudukan tinggi di pemerintahan kota Lu.
Sang nasib baik rupanya tidak selamanya ramah karena orang-orang yang dengki dengan ulah ini dan ulah itu menyeretnya ke pengadilan sehingga bukan saja berhasil mencopotnya dari kursi jabatan tapi juga membuatnya meninggalkan kota. Tak kurang dari tiga belas tahun lamanya Kong Hu-Cu berkelana ke mana kaki melangkah, jadi guru keliling, baru pulang kerumah asal lima tahun sebelum wafatnya tahun 479 SM.
Kong Hu-Cu kerap dianggap selaku pendiri sebuah agama; anggapan ini tentu saja meleset. Dia jarang sekali mengkaitkan ajarannya dengan keTuhanan, menolak perbincangan alam akhirat, dan mengelak tegas setiap omongan yang berhubungan dengan soal-soal metaflsika. Dia -tak lebih dan tak kurang- seorang filosof sekuler, cuma berurusan dengan masalah-masalah moral politik dan pribadi serta tingkah laku akhlak.
Ada dua nilai yang teramat penting, kata Kong Hu-Cu, yaitu “Yen” dan “Li:” “Yen” sering diterjemahkan dengan kata “Cinta,” tapi sebetulnya lebih kena diartikan “Keramah-tamahan dalam hubungan dengan seseorang.” “Li” dilukiskan sebagai gabungan antara tingkah laku, ibadah, adat kebiasaan, tatakrama dan sopan santun.
Pemujaan terhadap leluhur, dasar bin dasarnya kepercayaan orang Cina bahkan sebelum lahirnya Kong Hu-Cu, lebih diteguhkan lagi dengan titik berat kesetiaan kepada sanak keluarga dan penghormatan terhadap orang tua. Ajaran Kong Hu-Cu juga menggaris bawahi arti penting kemestian seorang istri menaruh hormat dan taat kepada suami serta kemestian serupa dari seorang warga kepada pemerintahannya. Ini agak berbeda dengan cerita-cerita rakyat Cina yang senantiasa menentang tiap bentuk tirani. Kong Hu-Cu yakin, adanya negara itu tak lain untuk melayani kepentingan rakyat, bukan terputar balik. Tak jemu-jemunya Kong Hu-Cu menekankan bahwa penguasa mesti memerintah pertama-tama berlandaskan beri contoh teladan yang moralis dan bukannya lewat main keras dan kemplang. Dan salah satu hukum ajarannya sedikit mirip dengan “Golden Rule” nya Nasrani yang berbunyi “Apa yang kamu tidak suka orang lain berbuat terhadap dirimu, jangan lakukan.”
Pokok pandangan utama Kong Hu-Cu dasarnya teramat konservatif. Menurut hematnya, jaman keemasan sudah lampau, dan dia menghimbau baik penguasa maupun rakyat supaya kembali asal, berpegang pada ukuran moral yang genah, tidak ngelantur. Kenyataan yang ada bukanlah perkara yang mudah dihadapi. Keinginan Kong Hu-Cu agar cara memerintah bukan main bentak, melainkan lewat tunjukkan suri teladan yang baik tidak begitu lancar pada awal-awal jamannya. Karena itu, Kong Hu-Cu lebih mendekati seorang pembaharu, seorang inovator ketimbang apa yang sesungguhnya jadi idamannya.
Kong Hu-Cu hidup di jaman dinasti Chou, masa menyuburnya kehidupan intelektual di Cina, sedangkan penguasa saat itu tidak menggubris sama sekali petuah-petuahnya. Baru sesudah dia wafatlah ajaran-ajarannya menyebar luas ke seluruh pojok Cina.
Berbetulan dengan munculnya dinasti Ch’in tahun 221 SM, mengalami masa yang amat suram. Kaisar Shih Huang Ti, kaisar pertama dinasti Ch’ing bertekat bulat membabat habis penganut Kong Hu-Cu dan memenggal mata rantai yang menghubungi masa lampau. Dikeluarkannya perintah harian menggencet lumat ajaran-ajaran Kong Hu-Cu dan menggerakkan baik spion maupun tukang pukul dan pengacau profesional untuk melakukan penggeledahan besar-besaran, merampas semua buku yang memuat ajaran Kong Hu-Cu dan dicemplungkan ke dalam api unggun sampai hancur jadi abu. Kebejatan berencana ini rupanya tidak juga mempan. Tatkala dinasti Ch’ing mendekati saat ambruknya, penganut-penganut Kong Hu-Cu bangkit kembali bara semangatnya dan mengobarkan lagi doktrin Kong Hu-Cu. Di masa dinasti berikutnya (dinasti Han tahun 206 SM – 220 M). Confucianisme menjadi filsafat resmi negara Cina.
Mulai dari masa dinasti Han, kaisar-kaisar Cina setingkat demi setingkat mengembangkan sistem seleksi bagi mereka yang ingin jadi pegawai negeri dengan jalan menempuh ujian agar yang jadi pegawai negeri jangan orang serampangan melainkan punya standar kualitas baik ketrampilan maupun moralnya. Lama-lama seleksi makin terarah dan berbobot: mencantumkan mata ujian filosofi dasar Kong Hu-Cu. Berhubung jadi pegawal negeri itu merupakan jenjang tangga menuju kesejahteraan material dan keterangkatan status sosial, harap dimaklumi apabila di antara para peminat terjadi pertarungan sengit berebut tempat. Akibat berikutnya, ber generasi-generasi pentolan-pentolan intelektual Cina dalam jumlah besar-besaran menekuni sampai mata berkunang-kunang khazanah tulisan-tulisan klasik Khong Hu-Cu. Dan, selama berabad-abad seluruh pegawai negeri Cina terdiri dari orang-orang pandangannya berpijak pada filosofi Kong Hu-Cu. Sistem ini (dengan hanya sedikit selingan) berlangsung hampir selama dua ribu tahun, mulai tahun 100 SM sampai 1900 M.
Tapi, Confucianisme bukanlah semata filsafat resmi pemerintahan Cina, tapi juga diterima dan dihayati oleh sebagian terbesar orang Cina, berpengaruh sampai ke dasar-dasar kalbu mereka, menjadi pandu arah berfikir selama jangka waktu lebih dari dua ribu tahun.
Ada beberapa sebab mengapa Confucianisme punya pengaruh yang begitu dahsyat pada orang Cina. Pertama, kejujuran dan kepolosan Kong Hu-Cu tak perlu diragukan lagi. Kedua, dia seorang yang moderat dan praktis serta tak minta keliwat banyak hal-hal yang memang tak sanggup dilaksanakan orang. Jika Kong Hu-Cu kepingin seseorang jadi terhormat, orang itu tidak usah bersusah payah menjadi orang suci terlebih dahulu. Dalam hal ini, seperti dalam hal ajaran-ajarannya yang lain, dia mencerminkan dan sekaligus menterjemahkan watak praktis orang Cina. Segi inilah kemungkinan yang menjadi faktor terpokok kesuksesan ajaran-ajaran Kong Hu-Cu. Kong Hu-Cu tidaklah meminta keliwat banyak. Misalnya dia tidak minta orang Cina menukar dasar-dasar kepercayaan lamanya. Malah kebalikannya, Kong Hu-Cu ikut menunjang dengan bahasa yang jelas bersih agar mereka tidak perlu beringsut. Tampaknya, tidak ada seorang filosof mana pun di dunia yang begitu dekat bersentuhan dalam hal pandangan-pandangan yang mendasar dengan penduduk seperti halnya Kong Hu-Cu.
Confucianisme yang menekankan rangkaian kewajiban-kewajiban yang ditujukan kepada pribadi-pribadi ketimbang menonjolkan hak-haknya -rasanya sukar dicerna dan kurang menarik bagi ukuran dunia Barat. Sebagai filosofi kenegaraan tampak luar biasa efektif. Diukur dari sudut kemampuan memelihara kerukunan dan kesejahteraan dalam negeri Cina dalam jangka waktu tak kurang dari dua ribu tahun, jelaslah dapat disejajarkan dengan bentuk-bentuk pemerintahan terbaik di dunia.
Gagasan filosofi Kong Hu-Cu yang berakar dari kultur Cina, tidaklah berpengaruh banyak di luar wilayah Asia Timur. Di Korea dan Jepang memang kentara pengaruhnya dan ini disebabkan kedua negeri itu memang sangat dipengaruhi oleh kultur Cina.
Saat ini Confucianisme berada dalam keadaan guram di Cina. Masalahnya, pemerintah Komunis berusaha sekuat tenaga agar kaitan alam pikiran penduduk dengan masa lampau terputus samasekali. Dengan gigih dan sistematik Confucianisme digempur habis sehingga besar kemungkinan suatu saat yang tidak begitu jauh Confucianisme lenyap dari bumi Cina. Tapi karena di masa lampau, akar tunggang Confilcianisme begitu dalam menghunjam di bumi Cina, bukan mustahil -entah seratus atau seratus lima puluh lahun yang akan datang – beberapa filosof Cina sanggup mengawinkan dua gagasan besar: Confucianisme dan ajaran ajaran Mao Tse-Tung.

ISAAC NEWTON 1642-1727

Isaac Newton, ilmuwan paling besar dan paling berpengaruh yang pernah hidup di dunia, lahir di Woolsthrope, Inggris, tepat pada hari Natal tahun 1642, bertepatan tahun dengan wafatnya Galileo. Seperti halnya Nabi Muhammad, dia lahir sesudah ayahnya meninggal. Di masa bocah dia sudah menunjukkan kecakapan yang nyata di bidang mekanika dan teramat cekatan menggunakan tangannya. Meskipun anak dengan otak cemerlang, di sekolah tampaknya ogah-ogahan dan tidak banyak menarik perhatian. Tatkala menginjak akil baliq, ibunya mengeluarkannya dari sekolah dengan harapan anaknya bisa jadi petani yang baik. Untungnya sang ibu bisa dibujuk, bahwa bakat utamanya tidak terletak di situ. Pada umurnya delapan belas dia masuk Universitas Cambridge. Di sinilah Newton secara kilat menyerap apa yang kemudian terkenal dengan ilmu pengetahuan dan matematika dan dengan cepat pula mulai melakukan penyelidikan sendiri. Antara usia dua puluh satu dan dua puluh tujuh tahun dia sudah meletakkan dasar-dasar teori ilmu pengetahuan yang pada gilirannya kemudian mengubah dunia.
Pertengahan abad ke-17 adalah periode pembenihan ilmu pengetahuan. Penemuan teropong bintang dekat permulaan abad itu telah merombak seluruh pendapat mengenai ilmu perbintangan. Filosof Inggris Francis Bacon dan Filosof Perancis Rene Descartes kedua-duanya berseru kepada ilmuwan seluruh Eropa agar tidak lagi menyandarkan diri pada kekuasaan Aristoteles, melainkan melakukan percobaan dan penelitian atas dasar titik tolak dan keperluan sendiri. Apa yang dikemukakan oleh Bacon dan Descartes, sudah dipraktekkan oleh si hebat Galileo. Penggunaan teropong bintang, penemuan baru untuk penelitian astronomi oleh Newton telah merevolusionerkan penyelidikan bidang itu, dan yang dilakukannya di sektor mekanika telah menghasilkan apa yang kini terkenal dengan sebutan “Hukum gerak Newton” yang pertama.
Ilmuwan besar lain, seperti William Harvey, penemu ihwal peredaran darah dan Johannes Kepler penemu tata gerak planit-planit di seputar matahari, mempersembahkan informasi yang sangat mendasar bagi kalangan cendikiawan. Walau begitu, ilmu pengetahuan murni masih merupakan kegemaran para intelektual, dan masih belum dapat dibuktikan –apabila digunakan dalam teknologi– bahwa ilmu pengetahuan dapat mengubah pola dasar kehidupan manusia sebagaimana diramalkan oleh Francis Bacon.
Walaupun Copernicus dan Galileo sudah menyepak ke pinggir beberapa anggapan ngelantur tentang pengetahuan purba dan telah menyuguhkan pengertian yang lebih genah mengenai alam semesta, namun tak ada satu pokok pikiran pun yang terumuskan dengan seksama yang mampu membelokkan tumpukan pengertian yang gurem dan tak berdasar seraya menyusunnya dalam suatu teori yang memungkinkan berkembangnya ramalan-ramalan yang lebih ilmiah. Tak lain dari Isaac Newton-lah orangnya yang sanggup menyuguhkan kumpulan teori yang terangkum rapi dan meletakkan batu pertama ilmu pengetahuan modern yang kini arusnya jadi anutan orang.
Newton sendiri agak ogah-ogahan menerbitkan dan mengumumkan penemuan-penemuannya. Gagasan dasar sudah disusunnya jauh sebelum tahun 1669 tetapi banyak teori-teorinya baru diketahui publik bertahun-tahun sesudahnya. Penerbitan pertama penemuannya adalah menyangkut penjungkir-balikan anggapan lama tentang hal-ihwal cahaya. Dalam serentetan percobaan yang seksama, Newton menemukan fakta bahwa apa yang lazim disebut orang “cahaya putih” sebenarnya tak lain dari campuran semua warna yang terkandung dalam pelangi. Dan ia pun dengan sangat hati-hati melakukan analisa tentang akibat-akibat hukum pemantulan dan pembiasan cahaya. Berpegang pada hukum ini dia –pada tahun 1668– merancang dan sekaligus membangun teropong refleksi pertama, model teropong yang dipergunakan oleh sebagian terbesar penyelidik bintang-kemintang saat ini. Penemuan ini, berbarengan dengan hasil-hasil yang diperolehnya di bidang percobaan optik yang sudah diperagakannya, dipersembahkan olehnya kepada lembaga peneliti kerajaan Inggris tatkala ia berumur dua puluh sembilan tahun.
Keberhasilan Newton di bidang optik saja mungkin sudah memadai untuk mendudukkan Newton pada urutan daftar buku ini. Sementara itu masih ada penemuan-penemuan yang kurang penting di bidang matematika murni dan di bidang mekanika. Persembahan terbesarnya di bidang matematika adalah penemuannya tentang “kalkulus integral” yang mungkin dipecahkannya tatkala ia berumur dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun. Penemuan ini merupakan hasil karya terpenting di bidang matematika modern. Bukan semata bagaikan benih yang daripadanya tumbuh teori matematika modern, tetapi juga perabot tak terelakkan yang tanpa penemuannya itu kemajuan pengetahuan modern yang datang menyusul merupakan hal yang mustahil. Biarpun Newton tidak berbuat sesuatu apapun lagi, penemuan “kalkulus integral”-nya saja sudah memadai untuk menuntunnya ke tangga tinggi dalam daftar urutan buku ini.
Tetapi penemuan-penemuan Newton yang terpenting adalah di bidang mekanika, pengetahuan sekitar bergeraknya sesuatu benda. Galileo merupakan penemu pertama hukum yang melukiskan gerak sesuatu obyek apabila tidak dipengaruhi oleh kekuatan luar. Tentu saja pada dasarnya semua obyek dipengaruhi oleh kekuatan luar dan persoalan yang paling penting dalam ihwal mekanik adalah bagaimana obyek bergerak dalam keadaan itu. Masalah ini dipecahkan oleh Newton dalam hukum geraknya yang kedua dan termasyhur dan dapat dianggap sebagai hukum fisika klasik yang paling utama. Hukum kedua (secara matcmatik dijabarkan dcngan persamaan F = m.a) menetapkan bahwa akselerasi obyek adalah sama dengan gaya netto dibagi massa benda. Terhadap kedua hukum itu Newton menambah hukum ketiganya yang masyhur tentang gerak (menegaskan bahwa pada tiap aksi, misalnya kekuatan fisik, terdapat reaksi yang sama dengan yang bertentangan) serta yang paling termasyhur penemuannya tentang kaidah ilmiah hukum gaya berat universal. Keempat perangkat hukum ini, jika digabungkan, akan membentuk suatu kesatuan sistem yang berlaku buat seluruh makro sistem mekanika, mulai dari pergoyangan pendulum hingga gerak planit-planit dalam orbitnya mengelilingi matahari yang dapat diawasi dan gerak-geriknya dapat diramalkan. Newton tidak cuma menetapkan hukum-hukum mekanika, tetapi dia sendiri juga menggunakan alat kalkulus matematik, dan menunjukkan bahwa rumus-rumus fundamental ini dapat dipergunakan bagi pemecahan problem.
Hukum Newton dapat dan sudah dipergunakan dalam skala luas bidang ilmiah serta bidang perancangan pelbagai peralatan teknis. Dalam masa hidupnya, pemraktekan yang paling dramatis adalah di bidang astronomi. Di sektor ini pun Newton berdiri paling depan. Tahun 1678 Newton menerbitkan buku karyanya yang masyhur Prinsip-prinsip matematika mengenai filsafat alamiah (biasanya diringkas Principia saja). Dalam buku itu Newton mengemukakan teorinya tentang hukum gaya berat dan tentang hukum gerak. Dia menunjukkan bagaimana hukum-hukum itu dapat dipergunakan untuk memperkirakan secara tepat gerakan-gerakan planit-planit seputar sang matahari. Persoalan utama gerak-gerik astronomi adalah bagaimana memperkirakan posisi yang tepat dan gerakan bintang-kemintang serta planit-planit, dengan demikian terpecahkan sepenuhnya oleh Newton hanya dengan sekali sambar. Atas karya-karyanya itu Newton sering dianggap seorang astronom terbesar dari semua yang terbesar.
Apa penilaian kita terhadap arti penting keilmiahan Newton? Apabila kita buka-buka indeks ensiklopedia ilmu pengetahuan, kita akan jumpai ihwal menyangkut Newton beserta hukum-hukum dan penemuan-penemuannya dua atau tiga kali lebih banyak jumlahnya dibanding ihwal ilmuwan yang manapun juga. Kata cendikiawan besar Leibniz yang sama sekali tidak dekat dengan Newton bahkan pernah terlibat dalam suatu pertengkaran sengit: “Dari semua hal yang menyangkut matematika dari mulai dunia berkembang hingga adanya Newton, orang itulah yang memberikan sumbangan terbaik.” Juga pujian diberikan oleh sarjana besar Perancis, Laplace: “Buku Principia Newton berada jauh di atas semua produk manusia genius yang ada di dunia.” Dan Langrange sering menyatakan bahwa Newton adalah genius terbesar yang pernah hidup. Sedangkan Ernst Mach dalam tulisannya di tahun 1901 berkata, “Semua masalah matematika yang sudah terpecahkan sejak masa hidupnya merupakan dasar perkembangan mekanika berdasar atas hukum-hukum Newton.” Ini mungkin merupakan penemuan besar Newton yang paling ruwet: dia menemukan wadah pemisahan antara fakta dan hukum, mampu melukiskan beberapa keajaiban namun tidak banyak menolong untuk melakukan dugaan-dugaan; dia mewariskan kepada kita rangkaian kesatuan hukum-hukum yang mampu dipergunakan buat permasalahan fisika dalam ruang lingkup rahasia yang teramat luas dan mengandung kemungkinan untuk melakukan dugaan-dugaan yang tepat.
Dalam uraian yang begini ringkas, adalah mustahil membeberkan secara terperinci penemuan-penemuan Newton. Akibatnya, banyak karya-karya yang agak kurang tenar terpaksa harus disisihkan biarpun punya makna penting di segi penemuan dalam bidang masalahnya sendiri. Newton juga memberi sumbangsih besar di bidang thermodinamika (penyelidikan tentang panas) dan di bidang akustik (ilmu tentang suara). Dan dia pulalah yang menyuguhkan penjelasan yang jernih bagai kristal prinsip-prinsip fisika tentang “pengawetan” jumlah gerak agar tidak terbuang serta “pengawetan” jumlah gerak sesuatu yang bersudut. Antrian penemuan ini kalau mau bisa diperpanjang lagi: Newtonlah orang yang menemukan dalil binomial dalam matematika yang amat logis dan dapat dipertanggungjawabkan. Mau tambah lagi? Dia juga, tak lain tak bukan, orang pertama yang mengutarakan secara meyakinkan ihwal asal mula bintang-bintang.
Nah, sekarang soalnya begini: taruhlah Newton itu ilmuwan yang paling jempol dari semua ilmuwan yang pernah hidup di bumi. Paling kemilau bagaikan batu zamrud di tengah tumpukan batu kali. Taruhlah begitu. Tetapi, bisa saja ada orang yang mempertanyakan alasan apa menempatkan Newton di atas pentolan politikus raksasa seperti Alexander Yang Agung atau George Wasington, serta disebut duluan ketimbang tokoh-tokoh agama besar seperti Nabi Isa atau Budha Gautama. Kenapa mesti begitu?
Pertimbangan saya begini. Memang betul perubahan-perubahan politik itu penting kalau tidak teramat penting. Walau begitu, bagaimanapun juga pada umumnya manusia sebagaian terbesar hidup nyaris tak banyak beda antara mereka di jaman lima ratus tahun sesudah Alexander wafat dengan mereka di jaman lima ratus sebelum Alexander muncul dari rahim ibunya. Dengan kata lain, cara manusia hidup di tahun 1500 sesudah Masehi boleh dibilang serupa dengan cara hidup buyut bin buyut bin buyut mereka di tahun 1500 sebelum Masehi. Sekarang, tengoklah dari sudut perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam lima abad terakhir, berkat penemuan-penemuan ilmiah modern, cara hidup manusia sehari-hari sudah mengalami revolusi besar. Cara berbusana beda, cara makan beda, cara kerja dan ragamnya beda. Bahkan, cara hidup santai berleha-leha pun sama sekali tidak mirip dengan apa yang diperbuat orang jaman tahun 1500 sesudah Masehi. Penemuan ilmiah bukan saja sudah merevolusionerkan teknologi dan ekonomi, tetapi juga sudah mengubah total segi politik, pemikiran keagamaan, seni dan falsafah. Sangat langkalah aspek kehidupan manusia yang tetap “jongkok di tempat” tak beringsut sejengkal pun dengan adanya revolusi ilmiah. Alasan ini –sekali lagi alasan ini– yang jadi sebab mengapa begitu banyak ilmuwan dan penemu gagasan baru tercantum di dalam daftar buku ini. Newton bukan semata yang paling cerdas otak diantara barisan cerdas otak, tetapi sekaligus dia tokoh yang paling berpengaruh di dalam perkembangan teori ilmu. Itu sebabnya dia peroleh kehormatan untuk didudukkan dalam urutan hampir teratas dari sekian banyak manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Newton menghembuskan nafas penghabisan tahun 1727, dikebumikan di Westminster Abbey, ilmuwan pertama yang memperoleh penghormatan macam itu.

Xuan Zang, Bhikshu Tang San Zang Asli dalam Sejarah

Siapa pun pasti mengenal sosok bhikshu yang dikenal sebagai Tang San Zang (Tong Sam Cong). Bhikshu dengan nama asli Xuan Zang (Hsuan Tsang) ini terkenal sebagai guru dari siluman kera batu Sun Wu Kong (Sun Go Kong) dalam kisah Perjalanan ke Barat karya Wu Cheng En (di Indonesia telah ditayangkan filmnya dengan judul Kera Sakti). Namun sesungguhnya kisah asli perjalanan ke India yang dilakukan oleh Xuan Zang untuk mencari kitab suci dalam sejarah lebih dari sekedar khayalan penulis novel. Xuan Zang benar-benar pernah hidup di Cina dan mengadakan perjalanan ke barat, namun tanpa disertai para muridnya yang merupakan siluman atau titisan dewa, melainkan seorang diri bahkan tanpa seizin kaisar Tang. Oleh sebab itu, di sini akan dibahas tentang kisah hidup Xuan Zang dan perjalanannya ke India sesuai dengan catatan sejarah beserta sedikit uraian tentang ajaran beliau.

kehidupan awal

Siapa pun pasti mengenal sosok bhikshu yang dikenal sebagai Tang San Zang (Tong Sam Cong). Bhikshu dengan nama asli Xuan Zang (Hsuan Tsang) ini terkenal sebagai guru dari siluman kera batu Sun Wu Kong (Sun Go Kong) dalam kisah Perjalanan ke Barat karya Wu Cheng En (di Indonesia telah ditayangkan filmnya dengan judul Kera Sakti). Namun sesungguhnya kisah asli perjalanan ke India yang dilakukan oleh Xuan Zang untuk mencari kitab suci dalam sejarah lebih dari sekedar khayalan penulis novel. Xuan Zang benar-benar pernah hidup di Cina dan mengadakan perjalanan ke barat, namun tanpa disertai para muridnya yang merupakan siluman atau titisan dewa, melainkan seorang diri bahkan tanpa seizin kaisar Tang. Oleh sebab itu, di sini akan dibahas tentang kisah hidup Xuan Zang dan perjalanannya ke India sesuai dengan catatan sejarah beserta sedikit uraian tentang ajaran beliau.

Kehidupan Awal

Sekitar tahun 600 M di desa Chen He di Provinsi Henan saat cuaca dingin dan kering, Chen Yi dilahirkan. Tidak ada yang menyangka anak bungsu keluarga Chen tersebut akan tumbuh menjadi seorang cendikiawan dan peziarah Buddhis yang ternama, Xuan Zang.

Keluarga Chen secara turun-temurun menghasilkan pejabat dan sarjana Confusius. Chen Yi juga diharapkan agar dapat mengikuti jejak leluhurnya. Untungnya, ayahnya Chen Hui sangat tertarik dalam ajaran Buddha dan mempelajari kedua ajaran ini di rumah. Ini banyak mempengaruhi Chen Yi kecil, dan ketika kakak keduanya menjadi bhikshu di vihara Jing Tu, ia juga pergi ke sana untuk mempelajari dan menjalankan ajaran Buddha. Pada tahun yang sama, ketika baru berusia 6 tahun, ia menjadi seorang samanera. Biasanya, hanya anak kecil yang telah berusia paling kurang 7 tahun yang diizinkan untuk ditahbiskan sebagai samanera. Namun, Chen Yi dapat menyelesaikan ujian yang sulit dengan tepat dan oleh sebabnya ditahbiskan dalam Sangha sebagai pengecualian, dengan memakai nama Buddhis "Xuan Zang".

Ia mempelajari ajaran Theravada dan Mahayana di vihara Jing Tu dan menunjukkan kecenderungan pada ajaran Mahayana. Sejak usia belia, kecerdasan Xuan Zang yang luar biasa terlihat. Hanya dengan mendengar uraian pada suatu sutra satu kali saja dan mempelajarinya sendiri pada waktu lain, ia dapat mengingat keseluruhan sutra tersebut. Ini luar biasa karena biasanya suatu sutra mengandung jutaan kata. Para bhikshu lainnya memujinya sebagai jenius. Saat ayahnya meninggal pada tahun 611 M, ia dan kakaknya terus mendalami ajaran Buddha di vihara Jing Tu sampai ketidakstabilan politik memaksa mereka untuk mengungsi ke kota Changan (sekarang Xi An). Setelah itu, ia pergi ke Chengdu di Provinsi Sichuan untuk mendalami lebih lanjut ajaran Buddha yang membuatnya bertambah pengetahuan dan berkembang nama baiknya. Pada usia 20 tahun, Xuan Zang ditahbiskan sebagai bhikshu.

Semakin banyak Xuan Zang belajar semakin ia tidak puas dengan kualitas kitab-kitab Buddhis yang ada. Terdapat banyak terjemahan yang berbeda atas suatu sutra, kebanyakan bertentangan satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan karena penerjemahan kitab Buddhis tersebut kebanyakan dilakukan oleh para bhikshu luar dari India atau negeri lainnya. Halangan bahasa merintangi terjemahan yang akurat, ditambah lagi masing-masing penerjemah memiliki pengertian yang berbeda atas kitab aslinya, yang cukup sulit dipahami. Perbedaan aliran dalam agama Buddha juga memperumit proses penerjemahan karena pengikut masing-masing pengikut memiliki pandangan yang berbeda atas ajaran Buddha, yang sering diperdebatkan oleh pengikut aliran lain.

Sesungguhnya pada awal abad ke-7 M Cina telah menjadi "medan pertempuran" antara para pengikut aliran Yogacara, yaitu antara ajaran Yogacara berdasarkan karya Asanga dan ajaran yang sama berdasarkan karya Vasubandhu. Xuan Zang berpikir perdebatan antara keduanya disebabkan oleh tidak tersedianya kitab-kitab penting aliran Yogacara dalam bahasa Cina. Jika Yogacarabhumi-sastra, kitab yang menjelaskan tahapan dalam Yogacara untuk mencapai Pencerahan yang ditulis oleh Asanga tersedia dalam bahasa Cina, ia pikir ini dapat menyelesaikan semua perdebatan ini. Pada abad ke-6 M bhikshu India bernama Pamartha telah menerjemahkan sebagian isi kitab ini. Namun Xuan Zang bertekad untuk mendapatkan versi lengkap kitab ini langsung dari tanah kelahiran Buddha, India.

Semua ini membawa Xuan Zang pada kesimpulan bahwa untuk mendapatkan pemahaman yang benar, ia harus pergi ke barat untuk mendapatkan kitab suci asli agama Buddha.

Seakan-akan karma baik Xuan Zang berbuah, seorang murid dari bhikshu kepala Silabhadra yang merupakan pemimpin dan bhikshu tertinggi dari Universitas Nalanda tiba di Changan melalui perjalanan laut. Ketika sang murid mengetahui bahwa Xuan Zang sedang merencanakan perjalanan ke India, ia mengatakan: "Untuk memahami makna sesungguhnya dari kitab-kitab suci, kamu harus pergi ke Universitas Nalanda dan belajar di bawah bhikshu Silabhadra." Demikianlah, Xuang Zang menetapkan tujuan perjalanannya ke Universitas Nalanda yang tak lain adalah vihara Halilintar di surga Barat dalam kisah rekaan Perjalanan ke Barat. 
Perjalanan ke Barat

Pada tahun 629 Xuan Zang memulai perjalanan bersejarahnya. Saat itu Kaisar Tang Zhen Guan baru naik tahta 3 tahun. Bangsa Gokturks (Turki Timur) terus-menerus menyerang perbatasan barat Cina, oleh sebab itu pemerintah menutup jalan menuju barat, melarang siapa pun kecuali para pedagang dan orang asing melakukan perjalanan ke arah tersebut.

Pada waktu itu Xuan Zang dan beberapa bhikshu lain dengan tujuan yang sama mengajukan permohonan izin untuk melewati perbatasan (yang disebut "guo shuo" atau paspor) kepada pemerintah, tetapi ditolak. Para bhikshu lainnya menyerah, namun Xuan Zang memutuskan untuk secara diam-diam keluar dari Changan. Dalam perjalanan ia dihentikan di Liang Zhou karena ia tidak punya paspor. Seorang kepala bhikshu menolongnya meloloskan diri. Ia mengendarai kudanya siang dan malam hingga akhirnya sampai di Gua Zhuo. Pada saat yang sama titah pemerintah yang memerintahkan penangkapannya juga sampai di sana. Untungnya, para pejabat di sana yang adalah seorang umat Buddha yang taat menunda titah tersebut dan melepaskan Xuan Zang.
Walaupun berhasil lolos dari tangkapan pemerintah, bahaya sebenarnya masih menanti Xuan Zang. Tidak seperti dalam kisah Perjalanan ke Barat di mana bahaya tersebut datang dari para siluman yang hendak membunuh dan memakan dagingnya, bahaya yang dihadapi Xuan Zang lebih "membumi", tetapi tak kalah mematikannya. Setelah melewati Gansu, Lanzhou, dan Dunhuang di akhir Tembok Besar, ia mengambl jalan ke cabang utara Jalur Sutra melewati Yu Men Guan untuk menuju ke Gurun Gobi, bahaya pertama yang akan ia hadapi. Gurun Gobi yang luas dan kering dengan suhu yang ekstrem, panas menyengat di siang hari dan dingin membeku di malam hari, merupakan hal yang mematikan bagi penjelajahnya ditambah lagi dengan tipisnya persediaan air, makanan, dan tempat berlindung. Saat Xuan Zang memacu kudanya ke gurun tersebut , ia melihat tulang belulang manusia, sisa-sisa para penjelajah yang tersesat dan menemui ajalnya di tengah-tengah hamparan pasir tersebut.

Selain bahaya dari kondisi alam, terdapat juga lima menara jaga di Gurun Gobi. Para penjaga menara tersebut diperintahkan untuk memanahi dan membunuh para penjelajah tanpa paspor. Ketika Xuan Zang berusaha menyelinap, ia hampir terbunuh oleh tembakan anak panah. Dalam upaya menghindari menara jaga tersebut, ia tersesat dan mengembara selama berhari-hari tanpa air dan makanan. Ia hampir tewas ketika tunggangannya, seekor kuda yang sering menjelajahi gurun, menariknya ke sebuah mata air yang dapat menyelamatkan hidupnya. Tercatat dalam buku biografinya yang ditulis oleh para muridnya, pada malam kelima ketika Xuan Zang terbaring di atas pasir dan tidak dapat bergerak sama sekali, ia bermimpi seorang laki-laki tak dikenal dengan perawakan seperti raksasa mendatanginya dan menyuruhnya untuk bangun dan berjalan. Setelah Xuan Zang dapat berdiri dengan kedua kakinya dan berkelana tanpa tujuan sampai jarak tertentu, kudanya tiba-tiba meringkik kesenangan dan berlari ke arah tertentu, yang membawanya ke sebuah mata air yang kemudian menyelamatkan hidup Xuan Zang. Tokoh Sha Wu Jing, murid ketiga Xuan Zang dalam kisah Perjalanan ke Barat yang ditulis Wu Cheng En diinspirasi dari mimpi Xuan Zang ini.

Setelah dapat lolos dari maut, Xuan Zang sampai di kota oasis Kumul dan mengikuti lembah Sungai Chu menuju Asia Tengah. Kemudian ia sampai di Turfan yang saat itu dikenal dengan nama Kerajaan Gao Chang. Raja Turfan adalah seorang umat Buddha yang taat dan bermaksud untuk menjadikan Xuan Zang sebagai bhikshu kepala di negerinya. Gagal menahan Xuan Zang di negerinya, raja Turfan mengirim empat orang samanera dan dua puluh lima orang lainnya untuk melakukan perjalanan bersama Xuan Zang.

Setelah meninggalkan Turfan, Xuan Zang beserta rombongannya menuju Kara-shahr yang kemudian dilanjutkan ke Kucha. Kucha merupakan kota oasis yang terkenal dengan kuda-kudanya yang menakjubkan. Tanahnya subur dan sangat cocok untuk lahan pertanian. Di Kucha terdapat 100 buah vihara dengan lebih dari 5000 bhikshu Sarvastivadin. Semua vihara tersebut dihiasi dengan patung-patung Buddha yang diparadekan pada hari-hari khusus dalam upacara pengusungan rupang. Raja Kucha menyelenggarakan perayaan lima tahunan yang sebelumnya telah dilakukan sejak zaman Raja Asoka di mana setiap lima tahun sekali pemberian dana besar-besaran dilakukan untuk Sangha. Di luar pintu gerbang kota Xuan Zang melihat adanya dua buah patung Buddha setinggi 90 kaki dan di depannya dibangun tempat khusus untuk perayaan lima tahunan tersebut. Setelah tinggal di sana selama 2 bulan, ia melanjutkan perjalanan ke Aksu dan melintasi Gunung Ling.

Ketika melewati Gunung Ling yang banyak ditutupi gletser, sepertiga rombongan Xuan Zang tewas. Yang paling beruntung tewas seketika ketika mereka tertimpa bongkahan es yang berasal dari gletser yang pecah ditiup angin. Yang lainnya tertimbun salju longsor. Beberapa lainnya, saat berjalan di jalan es yang berbahaya, kehilangan pijakan mereka dan terjatuh. Yang lainnya lagi tewas karena membeku. Beberapa jatuh ke dalam retakan gletser. Namun dengan tekad yang kuat untuk sampai di India, Xuan Zang dapat melanjutkan perjalanannya menuju Pegunungan Tian Shan dan sampai di daerah Kirgistan melalui Celah Bedal.

Ia melewati pantai dari danau Issyk Kul di Kirgistan yang merupakan danau di atas pegunungan dengan ketinggian 5200 kaki dari permukaan laut dan danau terbesar di dunia seluas 6200 km persegi. Lalu melanjutkan perjalanan ke arah barat laut, ia melewati daerah danau Kyrgyz dari Myn-bulak, yang dikenal sebagai "Seribu Mata Air". Berjalan ke arah barat ia melintasi kota Tartar dari bangsa Tara dan negeri Nujkend di Chatkal dan tiba di Tashkent di Uzbekistan Timur yang dikuasai oleh bangsa Hun. Pemberhentian berikutnya adalah Samarkand, sebuah negeri yang berpenduduk padat yang terletak di pertemuan jalur perdagangan kuno Cina dan India. Kota ini merupakan pusat perdagangan di Jalur Sutra di mana para pedagang menukarkan barang dagangan mereka. Menurut Xuan Zang:

"Barang-barang dagang dari berbagai negeri disimpan di sini. Para penduduknya mahir dalam kesenian dan berdagang melebihi penduduk negeri lain. Orang-orang di sini pemberani dan bersemangat tinggi serta dicontoh oleh orang-orang negeri sekitar dalam hal keramah-tamahan dan sopan santunnya."

Dari Samarkand sang peziarah melanjutkan ke Kesh (Karshi) dan berjalan ke selatan memasuki daerah pegunungan. Setelah mendaki jalan yang curam dan terjal, ia sampai di Gerbang Besi, sebuah celah pegunungan yang batas kiri kanannya terdapat dinding tinggi berbatu yang berwarna seperti besi. Di sini pintu kayu ganda telah dibuat dan banyak lonceng dipasang di sana. Pintu-pintu ini dikuatkan dengan besi dan tahan serangan. Karena perlindungan yang diberikan pada celah tersebut ketika pintu-pintu ini ditutup, celah ini disebut Gerbang Besi. Kemudian ia sampai di Tukhara, sebuah negeri yang dikuasai bangsa Turki, dan menyeberangi sungai Oxus (Amur Darya) di dekat Termez, ia tiba di Kunduz di Afghanistan. Di sini Xuan Zang bertemu dengan putra tertua dari Khan raja bangsa Turki, kakak ipar dari raja Turfan, di mana Xuan Zang memperoleh surat izin darinya.

Setelah beberapa lama bersinggah, Xuan Zang melanjutkan perjalanan bersama beberapa bhikshu dari Balkh ke kota tersebut yang merupakan bekas ibukota dari kerajaan Bactria, kerajaan Raja Milinda dalam Milinda Panha. Di negeri ini terdapat 1000 vihara dan 3000 orang bhikshu. Di sini ia mengunjungi Nava Vihara (yang berarti "Vihara Baru", sekarang dikenal sebagai Navbahar) yang terkenal di mana ia mendapatkan kitab Mahavibhasa (penjelasan Abhidharma) dan mempelajari ajaran Theravada di bawah seorang guru bernama Prajnakara. Setelah memberikan penghormatan pada relik-relik suci di sana, Xuan Zang berangkat dari Balkh melalui jalan yang berbahaya dan sulit menuju pegunungan Hindu Kush dan sampai di Bamiyan.

Di Bamiyan orang-orang meyakini Tri Ratna, tetapi masih memuja ratusan dewa di mana para pedagang memberikan persembahan ketika keberuntungan usahanya memburuk. Di sini terdapat 10 vihara dengan sekitar 1000 bhikshu aliran Lokuttaravadin. Di sini juga Xuan Zang menyaksikan dua buah patung Buddha raksasa dengan tinggi sekitar 55 dan 35 meter masing-masing, yang diukir di sisi gunung pada abad ke-4 dan ke-5 M. Saat itu Xuan Zang salah mengira patung yang kecil terbuat dari perunggu karena permukaannya yang dilapisi perunggu. Ia juga melihat sebuah patung Buddha berbaring dan memberikan penghormatan pada beberapa relik gigi Sang Buddha. (Sayangnya kini patung Buddha raksasa peninggalan sejarah tersebut telah dihancurkan pemerintah Taliban pada tahun 2001).

Berjalan ke arah timur, Xuan Zang memasuki celah pegunungan Hindu Kush dan menyeberangi bukit Siah Koh, ia sampai di negeri Kapisa. Di sini terdapat kurang lebih 100 vihara dengan 6000 bhikshu Mahayana dan sebuah vihara besar dengan 300 bhikshu Theravada. Di sini juga ditemukan 10 kuil dewa dengan sekitar 1000 pertapa Hindu dari berbagai aliran seperti pertapa telanjang (Digambara), pertapa yang menutupi tubuhnya dengan abu (Pasupata), dan pertapa yang memakai manik-manik dari tulang di kepala mereka (Kapaladharina). Setiap tahun raja akan membuat patung Buddha perak dan memberikan dana kepada orang-orang miskin, papa, dan yang ditinggal sendiri. Setelah menghabiskan musim panas tahun 630 M di Kapisa, Xuan Zang pergi ke Nagarahara (Jalalabad). Di sini ia menemukan banyak vihara tetapi dengan sedikit bhikshu. Stupa-stupa telah rusak dan tinggal reruntuhan. Ia mengunjungi gua Naga Gopala yang menurut legenda pernah terdapat bayangan Sang Buddha yang ditinggalkan-Nya setelah menaklukkan sang naga. Di vihara yang menyimpan relik tulang kepala, ia menemukan bahwa penjaga di sana adalah para brahmana yang ditunjuk oleh raja dan mereka meminta para peziarah sejumlah uang masuk agar dapat melihat relik tersebut.
Mengunjungi Tempat-Tempat Suci Agama Buddha di India

Berjalan ke arah utara, sang peziarah tiba di Sravasti (Savatthi) dan mengunjungi daerah Maheth di mana ia melihat stupa Sudatta yang menandai tempat tinggal Anathapindika dan di sampingnya terdapat stupa Angulimala. Di Saheth, ia menemukan vihara Jetavana, tempat Sang Buddha biasanya berdiam di Sravasti, kini tinggal reruntuhan dan ditinggalkan. Dari Sravasti ia menuju Kapilavastu, ibukota kerajaan Sakya kuno; Lumbini, tempat kelahiran Siddhartha Gautama; Ramagama yang telah ditinggalkan selama bertahun-tahun; dan Kusinara, tempat mangkatnya Sang Buddha.

Berjalan ke selatan sekitar 500 li, melalui hutan rimba yang luas, ia tiba di Varanasi (Baranasi atau Benares), kota suci umat Hindu. Di sana terdapat 30 vihara dengan 3000 bhikshu, tetapi lebih dari 100 kuil dewa dengan 10.000 pertapa ajaran lain, kebanyakan adalah pemuja Siva. Di taman rusa di Sarnath, Xuan Zang mengunjungi sebuah vihara dengan 1500 bhikshu aliran Sammitiya dan menghormati stupa di sana. Menelusuri aliran sungai Gangga ke timur menuju Ghazipur, kemudian ke arah timur laut, ia tiba di kota Vesali di mana terdapat beberapa ratus vihara yang kebanyakan sudah rusak dengan sangat sedikit bhikshu. Kota tersebut dalam kehancuran dan praktis ditinggalkan. Xuan Zang juga melihat pilar Asoka dengan singa besar di atas dan di sampingnya, stupa yang didirikan Raja Asoka. Di dekat pilar tersebut terdapat sebuah kolam yang digali oleh sekelompok monyet untuk digunakan oleh Sang Buddha dan jauh ke selatan terdapat stupa yang menandai tempat di mana para monyet, setelah mengambil mangkuk Sang Buddha, memanjat sebuah pohon dan mengumpulkan madu untuk Beliau. Berjalan ke arah barat laut, ia melewati negeri Vajji dan menuju Nepal. Kemudian kembali ke Vesali dan menyeberangi sungai Gangga, ia tiba di kerajaan Magadha.

Pataliputta (Patna), ibukota kerajaan Magadha selama masa Raja Asoka sedang dalam kemunduran. Di sana terdapat 50 vihara dengan sekitar 10.000 bhikshu, kebanyakan beraliran Mahayana. Di kota tua tersebut Xuan Zang melihat ratusan vihara, stupa dan kuil dewa tinggal reruntuhan. Xuan Zang juga mengunjungi vihara Kukkutarama yang dibangun oleh Raja Asoka, namun bangunannya telah runtuh dan hanya tinggal fondasi dinding yang tersisa. Berjalan ke selatan, ia melewati vihara Tiladaka di mana para sarjana dan cendikiawan datang untuk belajar agama Buddha. Di dalam salah satu bangunannya ia melihat patung Tara dan Avalokitesvara didirikan di samping patung Sang Buddha, yang menandakan pengaruh Tantra dalam agama Buddha.

Kemudian ia sampai di sungai Neranjana dan menyeberanginya, sampai di Gaya. Di sini ia mengunjungi Pragbodhi di mana Bodhisattva Gautama menjalankan pertapaan keras selama 6 tahun, desa Sujata, hutan Uruvela, dan Bodhgaya, tempat Bodhisattva mencapai Pencerahan. Lalu ia berjalan ke Rajagaha di mana ia mengunjungi tempat-tempat suci seperti Puncak Burung Nazar, Hutan Bambu, sumber mata air panas, rumah batu Pippala, dan gua Sattapanni, tempat diadakannya Konsili Buddhis Pertama.

Setelah mengunjungi berbagai tempat-tempat yang berhubungan dengan kehidupan Sang Buddha, Xuan Zang pun tiba di Nalanda, tujuan utama perjalanannya ke India.
Belajar di Universitas Nalanda

Xuan Zang sampai di Nalanda sekitar tahun 635 dan mendaftar di pusat belajar agama Buddha tertua di dunia di sana untuk memenuhi tujuannya datang ke India. Untuk dapat menjadi siswa di sana, seseorang harus menyelesaikan ujian dari penjaga gerbang yang merupakan seorang petugas yang bertanggung jawab atas proses belajar di sana. Umumnya dari 10 calon siswa, 7 atau 8 orang akan gagal dalam ujian sulit ini. Namun Xuan Zang yang telah memiliki fondasi pengetahuan Buddha Dharma yang kuat dapat lolos ujian masuk dan diterima sebagai siswa Universitas Nalanda.

Universitas Nalanda juga merupakan vihara terbesar di seluruh India. Para siswa terbaik Buddhis berkumpul di sini, beberapa dari mereka berasal dari negeri asing seperti Xuan Zang. Pimpinan Universitas Nalanda saat itu adalah bhikshu kepala Silabhadra yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Beliau telah menguasai semua kitab suci dan teks Buddhis sehingga ia diberi gelar "Zheng Fa Zang". "Zang" merupakan bahasa Mandarin untuk "Pitaka" atau keranjang bambu yang digunakan untuk menampung kelompok kitab suci agama Buddha yang ditulis di atas daun lontar. Dengan demikian Tripitaka (atau "San Zang" dalam bahasa Mandarin) merupakan nama untuk kumpulan tiga keranjang bambu besar yang memuat seluruh kitab suci agama Buddha.

Seseorang yang menguasai seluruh kitab suci agama Buddha beserta arti setiap kitab tersebut diberi gelar "Zheng Fa Zang". Seseorang yang menguasai sedikitnya 50 kitab Buddhis diberi gelar "San Zang" (Tripitaka). Ini bukan kemampuan yang biasa saja, karena setiap kitab mengandung jutaan kata dan artinya sangat sulit dan mendalam. Di antara puluhan ribu bhikshu di Universitas Nalanda, hanya sekitar 1000 orang yang telah menguasai 20 kitab dan sekitar 500 yang menguasai 30 kitab. Kemudian hanya 9 orang yang menguasai 50 kitab dan mendapat gelar "San Zang" dan tentu saja hanya Bhikshu Silabhadra seorang yang menguasai semua kitab suci.

Namun demikian, aturan di Universitas Nalanda menyatakan harus terdapat sedikitnya 10 orang "San Zang" di sana. Saat itu Bhikshu Silabhadra sangat berkenan menjadikan Xuan Zang muridnya. Beliau mengajarkan Xuan Zang tentang Yogacarabhumi-sastra yang menghabiskan waktu 17 bulan untuk menjelaskan secara lengkap isi sebuah kitab saja. Setelah banyak belajar dan kerja keras, Xuan Zang dapat menguasai 50 kitab suci Buddhis dan menjadi "Sang Zang" ke-10. Hal ini berbeda sekali dengan kisah Perjalanan ke Barat di mana Xuan Zang mendapat gelar "San Zang" dengan mudah, yaitu diberikan oleh kaisar Tang.

Selain mempelajari ajaran Buddha di Nalanda, Xuan Zang juga mempelajari filosofi Hindu dan menguasai bahasa Sanskerta.

Pada tahun 638 Xuan Zang menghentikan studinya di Nalanda dan bermaksud untuk pergi ke Sri Lanka guna mempelajari lebih dalam ajaran Theravada. Ia berjalan ke Champa (Bhagalpur) dan Bengal Barat, tiba di Tamralipti di mana ia bermaksud mengambil jalur laut ke Sri Lanka. Namun di sana ia diberitahu bahwa akan lebih mudah mencapai Sri Lanka melalui India Selatan, maka ia memutuskan untuk mengambil jalur darat ke India Selatan. Berjalan ke arah tenggara Xuan Zang melewati negeri Orissa yang memiliki beberapa ratus vihara dengan 10.000 bhikshu Mahayana dan Kalinga di mana para pertapa terutama Nigantha lebih dominan. Kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju Kosala, tanah kelahiran Nagarjuna, pendiri ajaran Madhyamika, dan Andhara serta tiba di Amaravati. Di sini terdapat banyak vihara namun ditinggalkan dan telah runtuh. Ia menyaksikan dua bangunan di atas dua batu karang, satu di timur disebut Purvasaila (Karang Timur) dan yang lain di barat disebut Aparasaila (Karang Barat). Keduanya dulu didiamikan oleh para bhikshu, tetapi saat itu telah ditinggalkan dan ditumbuhi semak liar.

Setelah menghabiskan musim hujan di Amaravati, Xuan Zang melanjutkan perjalanan ke selatan melewati negeri Chola yang digambarkannya sebagai "telah ditinggalkan dan ditumbuhi semak liar, rawa dan hutan belantara, dengan penduduk yang sedikit dan sekelompok penjahat yang berkeliaran dengan bebas." Kemudian berjalan ke selatan melalui daerah hutan rimba dan berjalan 1.500 li, ia tiba di negeri Dravida.

Di ibukota Kanchipuram (di dekat Madras) terdapat sekitar 100 vihara dengan 10.000 bhikshu Mahayana. Di sini Xuan Zang mengetahui bahwa Sri Lanka sedang mengalami kekacauan dan bencana kelaparan setelah kematian rajanya. Maka ia melepaskan angan-angan untuk pergi ke pulau tersebut. Ia kemudian berjalan ke arah utara, memasuki hutan dan melewati banyak desa yang telah ditinggalkan di mana para penjahat berkeliaran mencari korban. Setelah berjalan 2.000 li tanpa menemui bahaya, sang peziarah sampai di Konkanapura (Golconda di dekat Hyderabad) di mana terdapat sekitar 100 vihara dengan 10.000 bhiksu baik Mahayana maupun Theravada. Dari Konkanapura ia memasuki negeri yang berbahaya yang dihuni oleh hewan buas dan para perampok, dan tiba dengan selamat di negeri Maharashtra di mana ia mengunjungi gua terkenal yang dibentuk dari potongan batu di Ajanta. Dari Ajanta ia berjalan ke Valabhi sekitar tahun 641 melalui Bharoch, Malava, dan Kachha. Valabhi merupakan ibukota kerajaan Maitraka di Gujarat dan sebuah pusat belajar dan perdagangan. Menurut Xuan Zang:

"Di sini terdapat sekitar seratus keluarga yang memiliki kekayaan seratus lakh (juta). Barang-barang yang langka dan berharga dari daerah-daerah yang jauh disimpan di sini dalam jumlah besar."

Ia mengunjungi sebuah vihara besar di mana dua orang guru Mahayana terkemuka, Sthiramati dan Gunamati pernah tinggal dan menulis kitab ulasan mereka. Berjalan ke arah barat, ia melewati Surashtra dan Gurjjara sebelum tiba di Ujjain (Ujjeni), ibukota Avanti. Di sini terdapat banyak vihara, tetapi kebanyakan hancur dan hanya terdapat 300 bhikshu tersisa. Berjalan ke barat, ia melintasi Sindhus di mana ia menyaksikan beberapa ratus vihara yang didiami oleh beberapa puluh ribu bhikshu aliran Sammatiya. Kemudian berjalan ke utara dan menyeberangi sungai Indus, ia tiba di Multan. Di sini umat Buddha dan para bhikshu sedikit. Terdapat 10 vihara, semuanya dalam reruntuhan. Pada titik ini Xuan Zang memutuskan untuk kembali ke Nalanda karena ia telah mengunjungi kebanyakan tempat suci Buddhis di India.

Kembali ke Nalanda, Xuan Zang menghabiskan waktunya mempelajari ajaran Mahayana dan ikut serta dalam debat filosofi. Setelah memperoleh pengetahuan agama Buddha yang cukup, ia berpikir untuk kembali ke tanah kelahirannya dan menyebarkan ajaran baru tersebut. Raja Assam, Kumara-raja, mendengar tentang kemampuan guru Cina tersebut dan mengundang Xuan Zang ke ibukotanya Kamarupa pada tahun 643. Saat Xuan Zang berada di Kamarupa, sang raja mendapat perintah dari raja atasannya, Raja Harsha Vardhana, untuk membawa sang bhikshu untuk menemuinya di Kajinghara, sebuah negeri kecil di tepi sungai Gangga. Saat pertemuan tersebut, keduanya menjalin hubungan yang dekat.

Harsha Vardhana mengundang Xuan Zang ke ibukotanya Kanauj di mana raja mengadakan pertemuan agama di tepi sungai Gangga, dihadiri oleh raja-raja dari 20 negeri bawahan, bersama-sama dengan para bhikshu dan brahmana. Xuan Zang ditunjuk sebagai "Ketua Diskusi". Selama tiga minggu berikutnya, Harsha memberikan dana makanan kepada para bhkshu dan brahmana setiap hari. Setelah itu, ia akan membawa patung Buddha sebesar badan manusia di atas bahunya ke atas sebuah menara di mana ia memberikan penghormatan kepada Sang Triratna dengan pemberian pakaian sutra yang dihiasi dengan batu-batu berharga. Pada hari terakhir, para pengikut ajaran lain berusaha menyabotase pertemuan dengan membakar menara tersebut dan berusaha membunuh raja dalam kekacauan yang ditimbulkan. Namun upaya pembunuhan berhasil digagalkan ketika si pelaku tertangkap oleh raja sendiri. Ia mengakui bahwa ia disewa oleh para pengikut ajaran lain dan brahmana yang iri atas penghormatan yang ditujukan raja kepada para bhikshu Buddhis. Oleh sebab itu, raja menghukum dalang di balik upaya pembunuhan ini dan mengusir para brahmana ke luar perbatasan India. Setelah itu, raja membawa tamunya ke Prayag di mana ia mengadakan perayaan lima tahunan dengan memdanakan seluruh kekayaannya yang terkumpul selama lima tahun, mengikuti teladan dari Raja Asoka.
Kembali ke Tanah Kelahiran

Setelah menyaksikan perayaan di Prayag, Xuan Zang tinggal selama 10 hari lagi bersama Harsha dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Cina. Untuk memastikan keamanan dan keselamatan Xuan Zang di perbatasan, Harsha memberinya pengawalan pasukan yang dikepalai oleh Kumara-raja. Ia kembali ke Cina melalui arah yang berlawanan dengan arah kedatangannya ke India, yaitu melalui Jalandhar, Takkasila, dan Nagarahara. Kemudian melewati Hindu Kush, ia memasuki Afghanistan utara. Berjalan ke arah barat laut, ia sampai di Badakshan dan menelusuri pegunungan dan lembah Pamirs, melewati beberapa kota di Tajikistan.

Setelah melewati barisan Sarykol yang membentuk perbatasan antara Cina dan Tajikistan, Xuan Zang sampai di Kashgar di provinsi Xinjiang. Dari Kashgar ia berjalan ke Yarkand dan Khotan. Tiba di Khotan 16 tahun setelah pertama kali ia berangkat, rombongan Xuan Zang tinggal tujuh orang saja. Perjalanan Xuan Zang ke India untuk mendapatkan kitab suci agama Buddha dan belajar Buddha Dharma dari orang-orang bijaksana di sana sungguh mengagumkan, mengingat ia melakukan perjalanan jauh tersebut hanya dengan berkuda atau jalan kaki. Selama perjalanannya Xuan Zang telah mengunjungi lebih dari 130 negeri/kerajaan yang kebanyakan adalah negeri-negeri kecil yang belum dipersatukan.

Di Xinjiang, Xuan Zang menulis sebuah surat kepada Kaisar Tang yang menggambarkan detail perjalanannya dan memohon izin untuk kembali ke tanah kelahirannya. Pada musim gugur ketika dedaunan berubah menjadi merah, surat tersebut sampai di ibukota Chang An, hanya untuk dikirim kembali ke Luo Yang di mana kaisar sedang mempersiapkan diri untuk menyerang Liao Dong. Kaisar sangat terkesan dengan kisah perjalanan Xuan Zang. Terlebih lagi, pada waktu itu kaisar membutuhkan informasi tentang negeri-negeri di sebelah barat Cina. Seperti yang kita ketahui, bangsa Gokturks terus-menerus menyerang perbatasan barat, memaksa pemerintah menutup jalan ke barat sehingga menyebabkan hubungan dengan negeri-negeri di barat terputus. Kejayaan Jalan Sutra dan pengaruh besar Cina yang dulu pernah sampai ke negeri-negeri barat kini tinggal sejarah. Kaisar mengetahui bahwa pengetahuannya tentang negeri-negeri di sebelah barat sekarang tidak cukup. Kembalinya Xuan Zang dari barat merupakan kesempatan emas bagi kaisar untuk meningkatkan pemahamannya atas negeri-negeri tetangga. Demikianlah, kaisar sendiri yang menulis surat balasan kepada Xuan Zang, yang menyambut kepulangannya ke Chang An.

Setelah mendapat surat balasan dari Kaisar Tang, ia meninggalkan Khotan dan melewati gurun Takla Makan, ia tiba di Dunhuang. Setelah berdiam beberapa lama di Dunhuang, ia kembali ke Chang An (Xian) pada tahun 645 di mana ia mendapat sambutan dan penghormatan besar dari para pejabat dan para bhikshu.

Beberapa hari kemudian kaisar mengundang Xuan Zang ke istana di mana Xuan Zang dengan tenang dapat menjawab semua pertanyaan tentang perjalanan dan pengalamannya. Sangat terkesan dengan pengetahuan dan kebijaksanaan Xuan Zang, kaisar memintanya menjadi seorang pejabat kerajaan. Tentu saja ini ditolak Xuan Zang karena ia ingin memfokuskan diri menerjemahkan kitab-kitab suci yang ia bawa pulang dan menyebarkan ajaran Buddha di Cina. Namun demikian, mengetahui keinginan kaisar untuk memperluas pengaruhnya ke negeri-negeri di sebelah barat, Xuan Zang berjanji akan menulis uraian kisah perjalanannya ke India lengkap dengan aspek politik, ekonomi, budaya, geografis, dan aspek lain dari negeri-negeri yang ia kunjungi. Maka terciptalah buku catatan perjalanan Xuan Zang yang berjudul "Perjalanan ke Barat pada Masa Dinasti Tang Agung (大唐西域記)", yang terdiri atas 12 volume dan 100.000 kata (lebih dikenal dengan judul "Catatan Tang Agung tentang Negeri-Negeri Barat"). Saat ini buku ini menjadi sumber sejarah yang sangat berharga tentang keadaan negeri-negeri di Asia Tengah pada abad ke-6 M dan hubungannya dengan Cina saat itu. (Bedakan buku ini dengan novel "Perjalanan ke Barat (西遊記)" yang ditulis pada masa dinasti Ming dan mengisahkan perjalanan Xuan Zang ke India bersama tiga muridnya.)

Dari hasil perjalanannya ke India, Xuan Zang telah berhasil kembali membawa barang-barang berikut:
• 115 butir relik Sang Buddha.
• 6 buah patung Buddha.
• 124 kitab atau sutra Mahayana.
• Kitab-kitab lain sampai berjumlah 657 kitab yang dibawa oleh 22 ekor kuda.
Untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, kaisar Tang dan ayahnya membantu Xuan Zang dalam upayanya menerjemahkan kitab suci agama Buddha, dengan menyediakan sumber daya manusia, termasuk para bhikshu terkemuka pada masa itu, dan semua perlengkapan tulis yang dibutuhkan. Ditambah lagi, sebuah pusat penerjemahan, Menara Da Yan, dibangun. Di sinilah Xuan Zang dan para pembantunya secara teratur menerjemahkan 73 kitab Buddhis, semuanya ada 1335 volume, dari bahasa Sanskerta ke bahasa Mandarin. Selain itu, ia juga menulis buku Cheng Wei Shi Lun, sebuah komentar atas teks-teks yang diterjemahkannya. Di sini Wei Shi berarti "Hanya Kesadaran", yaitu filosofi dasar dalam aliran Yogacara. Berdasarkan pemikiran aliran Yogacara ini, ia juga mendirikan aliran Fa Xiang yang populer selama masa hidup Xuan Zang dan para muridnya, namun berangsur-angsur menghilang ditelan waktu setelah kematian mereka.

Pada usia 63 tahun (sekitar tahun 664), disebabkan karena gangguan kesehatan yang timbul dari terlalu keras bekerja dan kelelahan, Xuan Zang meninggal dunia di vihara Yu Hua di Chang An. Lima tahun kemudian, menara pemakaman di Gunung Zhong Nan dapat diselesaikan dan jenazah Xuan Zang dipindahkan ke sana dengan upacara besar. Sayangnya, setelah menara tersebut dihancurkan karena perang dan selama berabad-abad kemudian sisa-sisa tubuh Xuan Zang secara bergantian ditemukan dan hilang lagi karena perang. Pada abad ke-20 ketika Jepang menyerang Cina, mereka menemukan sisa-sisa tubuh Xuan Zang di Nanking, yang terdiri atas sepotong tulang dan sebuah tas abu, dan berencana untuk membawanya ke Jepang. Pada akhirnya, setelah banyak negosiasi, sisa-sisa tubuh Xuan Zang dibagi menjadi 5 bagian, di mana satu bagian disimpan di Jepang dan sisanya disimpan di berbagai vihara dan museum di Cina. Bahkan sampai hari ini Xuan Zang masih merupakan tokoh yang dihormati dalam sejarah dunia pada umumnya dan dalam agama Buddha Mahayana pada khususnya.
Ajaran Xuan Zang

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Xuan Zang tidak hanya mempengaruhi Cina melalui kisah perjalanannya yang menakjubkan dan penuh rintangan, melainkan juga dengan pemikiran dan ajaran beliau khususnya dalam pengaruhnya terhadap agama Buddha di Cina. Beberapa pokok ajaran Xuan Zang yang bisa kita baca dari bukunya Cheng Wei Shi Lun adalah sebagai berikut:
• Metode-metode ajaran Buddhis memerlukan logika
• Gagasan metafisik seperti sifat Kebuddhaan dan Tathagata-garbha (benih Kebuddhaan dalam semua makhluk) dapat mengaburkan makna ajaran dasar Buddha.
• Yang Mutlak dalam agama Buddha, seperti Kedemikianan dan dharma yang tidak berkondisi, adalah tidak nyata, melainkan hanyalah ciptaan konseptual secara bahasa.
• Hanya apa yang bersifat sementara dan menghasilkan akibat yang dapat terlihat adalah "nyata" (dravya); "nyata" ini berlawanan dengan "tidak nyata" atau "nominal" (prajnapti).
• Kemungkinan pencapaian spiritual seseorang dibentuk oleh kombinasi benih karma yang melekat dan yang diperoleh yang selanjutnya harus diupayakan agar dapat berbuah.
• Tidak ada pertentangan antara ajaran Madhyamika dan Yogacara.

Buku Cheng Wei Shi Lun merupakan buku ensiklopedia tentang ajaran Yogacara dan perdebatannya dengan sesama aliran Yogacara maupun non-Yogacara. Di dalamnya terdapat diskusi tentang 8 kesadaran, 100 dharma, 3 karakteristik, hukum sebab musabab, dan 5 langkah menuju Kebuddhaan, serta juga berbagai topik lain yang menjadi perhatian umat Buddha di India dan Cina pada abad ke-7.

Istilah Tathagata-garbha tidak ditemukan dalam Cheng Wei Shi Lun karena dalam bukunya Xuan Zang berusaha menolak gagasan Tathagata-garbha (yang menjadi alasan para rivalnya seperti Fazang menyerang ajaran Xuan Zang). Ajaran Tathagata-garbha menggunakan perumpamaan untuk membandingkan sifat murni dan tidak berkondisi dari Tathagata-garbha dengan ruang angkasa yang tidak terbatas menjangkau ke mana-mana dan tidak menghalangi maupun dihalangi oleh apa pun. Cheng Wei Shi Lun berargumen bahwa ruang angkasa merupakan ciptaan mental yang dihasilkan oleh kebiasaan membayangkan gambaran ruang yang pernah didengar seseorang. Semua dharma yang tidak berkondisi juga merupakan ciptaan khayal dari bahasa kita, termasuk Tathagata-garbha dan sinonimnya Kedemikianan (Tathata). Bagi kebanyakan pengikut Buddhis, Kedemikianan merupakan gagasan metafisik, realitas tertinggi yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang telah mencapai Pencerahan. Chen Wei Shi Lun menyebutkan: "Dharma-dharma yang tidak berkondisi semuanya adalah rekaan nama (prajnapti) yang dibangun di atas dasar Kedemikianan dan Kedemikianan juga adalah istilah rekaan.... Kami tidak sama seperti aliran lain (yang mengakui) bahwa selain dari bentuk jasmani, pikiran, dst, terdapat dharma yang nyata dan kekal yang disebut Kedemikinan. Alih-alih, (kami mengatakan) dharma-dharma yang tidak berkondisi sesungguhnya bukan hal yang nyata."

Chen Wei Shi Lun membedakan 3 tingkat kenyataan: (1) yang sama sekali salah dan tidak nyata, yang termasuk khayalan logika, kesadaran yang salah (misalnya halusinasi), dst. (2) khayalan nominal yang merupakan ciptaan konseptual bahasa yang disalahartikan sebagai sesuatu yang nyata. Ia adalah pedang yang bermata ganda,karena khayalan ini dapat membuat orang-orang percaya dan terikat pada hal-hal yang tidak nyata, namun khayalan dari ajaran Buddhis (seperti konsep Kedemikianan) dapat membebaskan orang-orang dari khayalan ini sepenuhnya. (3) Kenyataan yang didefinisikan sebagai bersifat sementara, dihasilkan oleh sebab dan kondisi, dan menghasilkan hal-hal yang dapat diamati. Dengan demikian, hal-hal yang kekal dan tidak dapat diamati adalah tidak nyata, seperti konsep Ketuhanan dan Kedemikianan, sedangkan momen dari persepsi indra yang disadari adalah nyata. Ketiga jenis kenyataan ini lebih jauh disebut sebagai kebenaran konvensional (samvrti-satya). Apa yang merupakan kebenaran mutlak (paramartha-satya) merupakan aliran dari kondisi-kondisi sementara yang saling bergantungan (paratantra).

Ajaran Tathagata-garbha, terutama seperti yang dirumuskan oleh penerjemah Paramartha, menganggap pikiran sebagai yang nyata, yang tertinggi, penyebab eternal segala sesuatu, yang menyadari apa yang membentuk Pencerahan. Cheng Wei Shi Lun dengan tajam membedakan penggunaan istilah "hanya kesadaran" dan "hanya pikiran" dari gagasan ini. "Untuk mengatasi keterikatan terhadap pandangan bahwa di luar pikiran dan kondisi mental yang sejenis (citta caitta) terdapat objek-objek yang nyata, kami mengatakan bahwa hanya kesadaran yang ada. Jika anda terikat pada 'hanya kesadaran' sebagai sesuatu yang benar-benar ada, itu tidak ada bedanya dengan terikat pada objek indera luar, yaitu hanyalah keterikatan pada dharma lainnya," tulis Xuan Zang. Objek-objek luar ditolak untuk dapat fokus pada kenyataan bahwa apa yang diketahui secara langsung terjadi hanya dalam kesadaran; bahwa kita yang terjebak dalam cermin khayal ini adalah masalah, bukan solusi. Menghancurkan pendekatan epistemologi ini dengan mengubah kesadaran menjadi "pengetahuan langsung" (jnana) merupakan tujuan ajaran Xuan Zang.

Dengan menyatakan bahwa setiap arus kesadaran memiliki benih yang telah menyatu dengannya tanpa awal dan juga benih yang diperoleh dari pengalaman baru (yaitu yang alamiah dan hasil pengaruh luar), Cheng Wei Shi Lun menyebut adanya lima gotra atau keluarga dalam ajaran Yogacara. Benih yang telah menyatu tersebut menentukan kemungkinan ajaran yang diikuti seseorang. Tiga gotra pertama berdasarkan 3 jenis Pencerahan dalam agama Buddha, yaitu Arhat atau Sravakabuddha (seseorang yang dapat mencapai Pencerahan dengan belajar ajaran Buddha), Pratyekabuddha (seseorang yang mencapai Pencerahan tanpa bantuan orang lain dengan memahami hukum sebab musabab), dan Bodhisattva (seseorang yang mencapai Pencerahan melalui jalan Mahayana), ditambah dengan kelompok yang tidak tentu jalan Pencerahan-nya (aniyata) dan kelompok yang tidak memiliki potensi spiritual (agotra). Setiap gotra memiliki beberapa benih Pencerahan, tetapi tidak semuanya dan dengan demikian tingkat Pencerahan mereka ditentukan berdasarkan hal ini. Arhat memiliki paling sedikit, Bodhisattva paling banyak, dengan Pratyekabuddha di antara keduanya. Mereka yang memiliki benih Pencerahan yang penuh dapat menjadi Buddha. Kontroversi ajaran ini adalah penyebutan adanya golongan yang tidak memiliki benih Pencerahan dan oleh sebabnya tidak dapat mencapai Pencerahan. Ini jelas bertentangan dengan gagasan Buddhis yang terdapat dalam Nirvana Sutra dan sutra lainnya bahwa sifat Kebuddhaan adalah universal sehingga semua makhluk dapat mencapai Pencerahan. Tidak ada ajaran Cheng Wei Shi Lun yang ditentang keras oleh para lawannya selain ajaran ini.

NB: Tentu saja maksud dimasukkannya ajaran Xuan Zang di sini bukan untuk memperdebatkan apakah ajaran tersebut benar atau sesuai dengan ajaran Buddha pada umumnya, melainkan hanya sebagai pelengkap guna menambah wawasan kita tentang pengetahuan dan kejeniusan Xuan Zang, seorang penerjemah kitab suci Buddhis yang terkemuka pada zamannya (bahkan salah satu terjemahan beliau yang sering digunakan umat Buddha Mahayana adalah Prajna Paramita Hridaya Sutra). Untuk mengetahui lebih lanjut tentang ajaran Yogacara secara umum yang menjadi dasar ajaran Xuan Zang ini, silakan dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Yogacara

PERDAMAIAN

PERANG REALITAS (GERBANG 1 )
SALAM DAMAI DIPIKIRAN .
Dalam bahasan kali ini,akan diungkap 7 jalan masuk diakal menuju GERBANG zaman cakrawala baru.
Apa GERBANG zaman cakrawala baru itu ?
GERBANG ZAMAN CAKRAWALA BARU ADALAH( sebagaimana telah diungkap diatas tulisan ini ) :
“DAMAI DALAM POLA PIKIR KITA MASING MASING !”.
Sangat simple dan praktis !
Namun kenyataannya benarkah seperti itu ??
Sebagai gerbang pertama dilalui, saya beri judul PERANG REALITAS.
Sebagaimana sudah bukan rahasia umum lagi.
Keselamatan dunia termasuk realitas dunia dan umat manusia paling mutahir.Karena nyaris tiada hari dimuka bumi ini tanpa ada hari yang tidak menyorot tentang ini!.
Memang sangat banyak aspek terangkum didalam hiruk pikuk suara dunia ini.Mulai dari aspek persenjataan atau Perdamaian sampai ideologi.Mulai dari aspek sosial budaya dan moralitas sampai ekologi dan ekonomi.Mulai dari penemuan penemuan iptek tak terkendali dengan segala konsekuensinya yang tak terkira dan terusnya.
Tapi dalam bahasan ini ,Kita hanya menyambil satu aspek saja. Yaitu masalah keamanan atau perdamaian semesta !.
Kenapa ?
Karena masalah perdamaian adalah induk dari segala masalah kita semua.
Tapi bukan dalam bingkai atau wilayah teknis.Tapi berdasar tinjauan yang amat personal. Yaitu didalam pikiran kita sendiri !. Inilah sesungguhnya inti konsep keselamatan dunia yang paling elementer,real dan urgen.
KARENA sesungguhnya makin hari kita dihadapkan pada pilihan tunggal, selamat dan lestari atou lambat laun punah.Atau bila ini terasa agak ekstrim; lambat laun bencana bencana global menghadang. entah eko sistim, entah sosial politik. entah finansial besar ,entak penemuan iktek tak terkendali dan entah apalagi…..
Pilihan tunggal ?
Sengaja kata itu disebut, karena untuk selamat tak ada pilihan .
Meski dalam zaman multi realitas , pilihan kita pada pilihan tunggal ini sebetulnya perkara yang simple.Tapi keadaan menjadikannya rumit dan bias.Karena tidak semua unsur didunia ini setuju pada realitas itu, demikian juga skeptis pada jalan solusinya.
Sepanjang sejarah peradaban manusia belum pernah , peradaban manusia sampai pada tingkatan tahapan seperti ini.
Tapi sebagian besar umat manusia, termasuk kalangan paling kompeten, yaitu para politisi dan negarawan.
Sering lupa atau tak menyadari atau mengabaikan (dalam pikirannya )perubahan sangat fundamental ini. Di anggapnya budaya sistim politik dan segala turunannya masih seperti zaman zaman dulu. Dimana apa saja legal diperbuat seperti hukum rimba.Yang kuat menguasai, yang lemah dikuasai!.
Karena memang waktu itu alam semesta ini secara de fakto ,tak berbatas,tak terukur , tak bertuan,tak berakibat dan tak berstruktur !!.
Dianggapnya semua konsep keselamatan itu sesuatu yang terlalu idealis. Tak bisa diterapkan dalam realitas praktis !
Sungguh sebuah dogma yang fatal dan menyesatkan !.
Jadi jelaslah sudah kenapa saya menyebut gerbang pertama ini Perang Realitas.Karena untuk berhasil memilih realitas keselamatan itu, umat manusia harus berperang dulu dengan realitas realitas lain. Memang bukan perang dalam arti phisik, apalagi perang bersenjata. Tapi perang dalam pikiran kita sendiri. Mau dibawa kemana , atau mau menempatkan diri di pilihan realitas mana diri kita ini.
Pilihan kita sesungguhnya adalah cermin keluhuran moralitas kita, kemanusiaan kita, wawasan alam pikiran kita, kemajuan pikiran kita dan martabat atau nilai diri kita !.Untuk hal hal seperti ini, sesungguhnya bagi pribadi pribadi yang sudah mengenal ajaran agama tak terlalu sulit menjatuhkan pilihannya. Namun bukan berarti otomatis keberpihakan mereka seperti kita harapkan. Sebab pikiran manusia yang praktis dan real, sering tak sinkron dengan nuraninya.Banyak penyebabnya;keangkuhan intelektual,terlalu prakmatis atau yang sangat fatal ada kepentingan kepentingan lain nya!.
Pikiran realitas adalah sesuatu yang tak bisa dipaksakan dari luar. Ia adalah kesadaran dirinya sendiri mau ber pikir realitas seperti apa !.Maka , tak ada kalimat paling tepat untuk menghimbau seluruh umat manusia di planet ini. Agar mau menempatkan dirinya di realitas bahwa solusi akan keselamatan dunia selalu ada. Karena kita punya tahapan zaman baru !.
KUNCI ZAMAN BARU (GERBANG 2)
Gerbang ke 2 .Saya beri judul KUNCI ZAMAN BARU .
Kenapa kunci ?, karena untuk membuka sesuatu harus pakai kunci!
Saya punya cerita.
KISAH PERTAMA.
Tahun 1960 an, dunia diselimuti perang dingin dua blok .
Perang dingin ini memasuki hampir seluruh dimensi kehidupan dunia saat itu.
Tahun 1980 an, perang dingin mulai hilang , dengan puncak momennya diruntuhkannya tembok berlin.
Pada tahun 1960 an, siapa di planet Bumi ini yang akan berpikir zaman baru tanpa perang dingin akan muncul sedramatis ini ?
KISAH KEDUA.
Pada awal revolusi industri ,merupakan suatu heroisme bila ada penemuan penemuan baru, meski semua itu mengexploitir sumber sumber daya alam.
Semuanya berlomba lomba menjadi yang termaju, terdepan dan termodern.
Sama sekali tak dengar apa itu namanya ” GLOBAL WARMING “……” EFEK RUMAH KACA “….. ” KEHABISAN SUMBER SUMBER DAYA ALAM ” ……dan sebagainya. Karena memang secara logika dan rasional semua pengertian itu tak dikenal !!!!!.
Apa makna dari 2 kisah diatas itu ???
Zaman akan selalu berkembang , kemudian berubah….!
Itu terjadi, tanpa kita suka atou tidak !…
tanpa diharapkan atau tidak !….
DENGAN KATA LAIN,ZAMAN BARU AKAN MENGISI PERADABAN UMAT MANUSIA TANPA KITA MENGUNDANGNYA SEKALIPUN !!!!
ZAMAN SILIH BERGANTI SESUAI REALITAS YANG ADA !!!
DAN REALITAS SELALU MEWARNAI LOGIKA ,POLA PIKIR DAN RASIONAL KITA .
Era realitas perang dingin pada saatnya begitu monumental karena didukung logika ,pola pikir dan rasional kehidupan politik antar negara saat itu…..
KEMUDIAN realitas perang dingin pudar, itu juga didukung logika ,pola pikir dan rasionalitas yang berlaku zaman itu. Terutama yang dilontarkan sang pengagas perestorika Mr GORBACHEV ! …….
Era realitas zaman keterbatasan sumber sumber daya alam planet Bumi muncul karena didukung juga oleh logika,pola pikir dan rasionalitas seperti itu.
Jadi sesungguhnya KUNCI ZAMAN BARU ADALAH LOGIKA,POLA PIKIR DAN RASIONALITAS yang disesuaikan dengan realitas zaman yang ada, kemudian berlaku menjadi dalil.
Siapa yang dapat melawan arus logika ,pola pikir dan rasionalitas dalam sebuah realitas ???? Tak ada !!!! kecuali irasional dan absurdisme !!
Namun sayangnya. Realitas adalah hak dan kebebasan pikiran masing masing. Tak bisa diintervensi dari luar dirinya.
Maka sering terjadi, realitas real didunia belum tentu sama realitas pribadi pilihannya.
Karena itulah, saya menyebut topik ini KUNCI MENUJU ZAMAN BARU. Kebersamaan realitas yang terjadi didunia real dengan realitas pilihannya adalah; laksana sebuah kunci pembuka penting. Kunci untuk membuka pikiran zaman baru dalam pikiran kita masing masing.
Tapi saya pun ingin ingatkan. Terkadang kunci zaman baru tak kelihatan, maksudnya tak bisa diprediksi . Ia bisa datang seperti angin tiba tiba atau pencuri disiang hari.Ini karena dalam sejarah pernah tercatat, realitas yang sebenarnya kadang kadang kasat mata……Karena tersembunyi jauh didalam jiwa umat manusia !
PERSEPSI KELIRU! (GERBANG 3 )
Gerbang ke 3 adalah PERSEPSI KELIRU.
Keselamatan dunia macam apa ingin kita semua tuju ???
Sebuah masarakat dunia yang tiap personnya saling tolong, saling sayang dan sebagainya ?
Mirip nirwana dalam konsep konsep beberapa ajaran agama ?
Sering kita mendengar cemooh tentang konsep sangat ideal itu.
Katanya pendapat bahwa dunia yang damai seperti itu adalah utopia ! karena sifat jahat dalam diri manusia tak mungkin hilang.
BETUL, sifat sifat seperti itu sulit hilang dalam konstek hidup dan kehidupan individual seseorang.Ini sama saja pertanyaan , mungkinkan perampokan atou pemerkosaan hilang dari hidup dan kehidupan didunia ini ??
Bila kita membuka buku sejarah, bahkan pada zaman zaman keemasan kekuasaan agama atas negarapun , masarakat ideal semacam itu tak banyak tercatat.
Ini bila kita memakai referensi berdasar segala sesuatu yang pernah ada dan sedang ada. Bukan referensi yang akan ada.Atau akan terjadi berdasar segala sesuatu yang akan terjadi pula.
Maksud saya berkata itu. Mungkin saja (sekali lagi;MUNGKIN SAJA ) di masa depan , apabila pikiran kita semua telah mengalami proses strukturilasi baru. unsur unsur negatif dalam hati manusia mampu diredam oleh pikirannya yang terkendali.
Di tulisan lain, saya pernah mengurai faktor generasi blue print . Mungkin generasi blue print impian ini lah yang saya maksud itu.Ini sekedar menjawab bila ada pertanyaan ke topik itu.
Kembali ke pokok bahasan.
Kembali ke bumi masa kini. Saat sekarang kita bernafas.
Jelas dalam realitas konsep keselamatan dunia sedang kita bahas ini,tidak sampai menyentuh kewilayah tatanan kehidupan sosial sejauh itu.
Konsep keselamatan dunia cuma terbatas pada unsur unsur membebaskan kita semua dari ancaman ancaman negatip zaman .
Inipun skalanya dapat dipersempit lagi.Yang jadi bidikan bahasan kita kali ini adalah kehidupan secara global atau universal. Sama sekali bukan mengenai tatanan wilayah kehidupan sosial disebuah wilayah atau negri.Kehidupan globalpun hanya pada unsur politik antar bangsa dan lingkungan hidup sedunia.
Karena nya persepsi keliru, bila ada yang mencampur baurkan kedua bidang ini. Bahkan , pada zaman zaman sebelumnyapun . Ada garis memisahkan antara kehidupan alam politik antar bangsa dan alam kehidupan sosial dalam sebuah bangsa.
Contohnya; Nazi jerman atau negri matahari terbit saat perang dunia kedua. Keluar negri mereka membunuh, menghancurkan, memperbudak sesama manusia, tapi didalam negrinya sendiri mereka jelas memberlakukan hukum hukum moral yang berlaku, demi menjaga ketertiban rakyatnya.
Alam kehidupan politik global di muka bumi ini , sebetulnya secara sistemik cuma menyangkut para pemimpin bangsa,para politisi dan negarawan .Ditambah sekalangan kecil individu,antara lain para pemimpin partai, anggota DPR, pimpinan militer , para cendekia militan, para pinpinan agama ekstrim,pemilik industri persenjataan dll.
Bila dijumlah semua person person punya andil dalam menentukan warna planet bumi itu, paling 1 juta orang atau dibawah 1 persen penduduk bumi.
Sukurlah, sejak berahir perang dunia ke 2, diantara komunitas global yang tidak sampai 1 persen itu, muncul idea membentuk organisasi perserikatan bangsa bangsa ( PBB ). Ini adalah kemajuan formal luar biasa, belum pernah sepanjang sejarah peradaban kita, ada lembaga formal semacam itu. Meskipun tidak berjalan seperti diharapkan, tapi banyak juga prestasi dibuat PBB untuk meringankan konflik konflik dan meringankan penderitaan manusia di berbagai wilayah.
Apa makna semua ini ?
Pada diri kita masing masing seharusnya bertanya. Kenapa kita tidak memperdayakan potensi 4 milyard lebih manusia buat memperingatkan dan menyadarkan mahluk yang cuman satu juta itu , bahwa seharusnya dengan adanya PBB, keadaan peradaban dunia sekarang jauh lebih baik !.
Dan sebelum harapan itu terjadi. Pikiran kita masing masing harus terbuka dulu : DAMAI DIPIKIRAN !
EVOLUSI TAK SECEPAT REVOLUSI
(GERBANG 4 )
Setelah melalui Gerbang1,2,3 sekarang kita sampai di gerbang 4.
Judulnya; EVOLUSI TAK SECEPAT REVOLUSI .
Mendengar istilah “evolusi” . Tentu ingatan kita tertuju pada Charles Darwin, pencetus teori evolusi jutaan tahun , dari kera menjadi manusia.Tapi kita tak akan ikut membahas kera jadi manusia.
Melainkan hanya meminjam lamanya waktu dibutuhkan oleh evolusi, dari mahluk paling terkebelakang menjadi mahluk maju.
Sedangkan istilah “Revolusi” .Tentu ini sebuah rentetetan tindakan ingin serba cepat, instan dan dramatis!. Sebuah makna sering dipikirkan orang sebagai peristiwa berdarah darah, mengerihkan dan kejam !.
Namun kita meminjam istilah revolusi disini cuma sebagai lawan kata evolusi.Sama sekali tidak ada darah tumpah, kota terbakar atau teriakan teriakan histeria.
Menarik mengulas perilaku kemanusiaan ,realitas,logika ,pola pikir dan rasio manusia pilihan itu. Terutama para indivudu yang tercakup; apa itu namanya poros masarakat komunitas politik internasional(anggota Perserikatan Bangsa Bangsa )dengan semua atmosfirnya.
Bila ditinjau dari teori evolusi. Berapa ribu tahun diperlukan agar para negarawan,politisi dan para pimpinan militer dan lain lainnya tersebut berlaku seperti saat ini ??.
Seperti kita semua tahu bila membuka buka buku sejarah lama. Katakanlah seribu tahun silam .
PADA PERADABAN PERADABAN SEBELUMNYA itu.Perilaku kemanusiaan, logika,pola pikir dan rasio para pemimpin bangsa bangsa didunia ini ,sangat sangat nasionalitis sempit. Asal demi kemakmuran, kejayaan dan kebesaran bangsa dan kerajaannya, apapun dilakukan ( termasuk menumpas sebuah ras atau sebuah bangsa sekalipun !)…
Keadaan ini sah sah saja karena REALITAS hubungan antar bangsa atau kerajaan waktu itu berdasar hukum rimban :SIAPA KUAT DIA MENANG !.
BERBEDA ZAMAN ATAU PERADABAN MODERN sekarang ini,atau lebih fokus setelah berdirinya PBB ,yang menjadi dasar realitas formal hubungan antar bangsa dan negara adalah saling menghargai,saling menghormati dan saling bantu .Berdasar azas kebersamaan dan satu kepentingan !
BILA DI TANYA apa hubungan kedua perilaku dan kedua zaman berbeda itu ?.ditinjau dari realitas zaman masa kini. Dengan sangat menyesal, keduanya seperti masih terikat satu sama lain !. Dua duanya masih aktual.Lembaga PBB tinggal lembaga PBB, tapi budaya hukum rimba belum sepenuhnya bisa dilepaskan !.Ditulisan lain saya menyebut ini, zaman multi realitas dan paradox yang membuat kita seperti jalan ditempat dan sakit!
Padahal berapa puluh juta bahkan ratus juta jiwa manusia melayang diseruruh dunia untuk sampai dizaman sekarang ????
Jawabnya…. TAK TERHITUNG.!
Namun berapapun korban telah dimakan untuk evolusi ini, satu pelajaran bisa ditarik.
Sering para pengambil kebijakan sebelum sampai diparadigma zaman baru, harus melewati atou mengalami dulu kehancuran masal yang besar.
Perang Dunia I dan PERANG DUNIA II adalah contoh sejarah aktuil, bagaimana umat manusia harus alami bencana dulu baru sadar bahwa peperangan itu menyengsarakan segalanya.Baru kemudian muncul PBB !!
Ada lagi contoh aktuil dalam sejarah.
Yaitu perlombaan senjata nuklir yang pernah mewarnai pentas dunia di tahun 50 an sampai tahun 70 an !!! berapa milyard dolar telah dibelanjakan buat memdanai logika dan rasionalitas mereka waktu itu tersebut ??
TOH AHIRNYA MUNCUL KESADARAN bahwa perlucutan senjata adalah satu satunya solusi untuk perdamaian dunia !!( meski baru sebagian kecil )
DAN KEMUDIAN KITA LIHAT BAGAIMANA sebagian senjata senjata pemusnah masal itu dihancurkan oleh yang membuatnya sendiri .
Suatu perilaku yang sangat mubazir!!
Padahal, bila digunakan untuk kesejahteraan , dana sebanyak itu pasti akan sangat bermanfaat !
ADA SATU PERIBAHASA tepat sekali menterjemahkan ketololan itu.
MANUSIA TAK AKAN MENGHARGAI ARTI SEHAT YANG SEJATI BILA DIRINYA TAK ALAMI DULU SAKIT YANG HEBAT!!.
Demikian juga REALITAS dunia damai tak akan terbentuk kuat bila dunia tak alami dulu kehancuran masal yang hebat lagi !??
TAPI BELUM CUKUPKAH SEMUA INI ????
MEMANG BETUL ZAMAN SEKARANG SUDAH ADA PBB…
MEMANG BETUL ZAMAN SEKARANG TELAH ADA PERLUCUTAN SENJATA…………
MEMANG BETUL ZAMAN SEKARANG SUDAH BANYAK EKSIS LSM YANG MENGKAMPANYEKAN DUNIA YANG LEBIH BAIK, bukan saja dalam isiu perdamaian dunia, tapi juga isiu lingkungan hidup, keterbatasan sumber daya alam, tata tertib ekonomi global dan lain sebagainya !!!!
TAPI semua itu, ternyata berlangsung amat lambat.Atau gaungnya tak menyengat !
BUKTINYA RASIONALITAS,POLA PIKIR DAN LOGIKA PERDAMAIAN DUNIA cuma sekedar pengisi ruang ruang konsprensi internasional, setelah itu hilang !!
PADAHAL SEPERTI TELAH DIUNGKAP DIATAS. REALITAS SUDAH SANGAT MENDUKUNG SEMUA ITU.
TAPI SENJATA SENJATA MODEL BARU TIAP TAHUN TETAP MUNCUL.
ANGGARAN MILITER DUNIA TETAP BESAR….!!!.
BILA KITA AMATI, ternyata semua itu berlangsung tampa ada tanda tanda akan ada satu perbaikan drastis !!!!
Berarti semua pemborosan itu akan terus membesar!!!…………….
Kenapa semua hiruk pikuk multi realitas dan paradok ini sulit dihentikan ?? jawabnya simple. Karena masih ada tangan tangan negatip bermain didalamnya. Kepentingan kepentingan ekonomis ,dogma dogma sempit warisan zaman purba, dan sentimen sentimen agama.Dan kedua, tapi yang terahir ini yang penting. Tak faktor penekan yang berkelanjutan dan masal.
Pernah dengar istilah suara rakyat adalah suara Tuhan ??
Kalimat ini dengan tepat mempresentasikan ; betapa kekuatan suara umat manusia secara masal amat potensial menguasai kesulitan apapun.
Sekarang masalahnya . Siapa dan dengan apa suara umat manusia itu bisa dipersatukan ?.Suara dari latar belakang ras, kebangsaan, agama, kedudukan dan perbedaan lainnya.
Melihat semua rintangan ini,agaknya perlu ada sebuah REVOLUSI dalam perilaku kemanusiaan,pola pikir ,logika dan rasionalitas dunia ….Karena tanpa perubahan dimulai dari diri masing masing mustahil ada persatuan dunia buat merubah semua ini.
Mampukah kita ???
Hanya waktu yang akan menjawab !.Namun yang jelas, sebelum semua itu bisa terjadi, damai dipikiran kita masing masing harus dinyalakan terlebih dahulu !
LOGIKA ,POLA PIKIR DAN RASIONALITAS
(GERBANG 5 )
Kini kita sampai di Gerbang 5, berjudul Logika, pola pikir dan rasionalitas.
Ini tentang pikiran. Pikiran kita semua !.
Mampukah kita berubah ??
Mampukah damai dipikiran menyala, bukan saja dalam pikiran kitamasing masing. Tapi menyala dalam pikiran dunia ?
Ada sebuah perumpamaan.
1+1= 2
INI Adalah logika !!!
Kenapa harus berdalil begitu ?.Karena memang rumusan begitu !
Ini adalah pola pikir
KENAPA KITA HARUS membuang sampah keluar rumah ???
KARNA BILA DIBIARKAN DALAM RUMAH MENJADI SARANG PENYAKIT !
ini adalah rasionaslitas
JANGAN DITANYA ,dari umur berapa seorang individu mampu memiliki logika dan rasionalitas seperti itu.
Yang jelas pada tahap tahap awal perkembanganpun, seorang anak dengan mudah akan mampu menyerap dan menerapkan itu.
Karena kenyataan hidup dan kehidupan di dunia ini,perhitungan logika ,pola pikir dan rasionalitas dicontohkan diatas sudah diterima sebagai sebuah kebenaran hakiki atau dalil !
Namun bukan berarti sejak awal kehidupan kita ini diciptakan, dalil dan kebenaran mutlak tersebut serta merta sudah tersedia.
Mungkin perlu ribuan tahun, bahkan jutaan tahun logika,pola pikir dan rasionalitas sedehana itu diterima kita.Melalui tahapan tahapan yang kadang sulit dan menyakitkan .
Tahapan tahapan yang sering diabaikan dan dilupakan orang. Padahal dari kesadaran itulah kita baru akan mampu menghargai hidup dan kehidupan masa kini.
Masih ingat contoh pendapat bahwa PLANET INI BUNDAR ???? .
Kita semua tahu , realitas planet ini bundar baru diterima mutlak tak lebih 5 abad yang lalu !
Dengan kata lain, setelah mengalami chaos dan proses pendewasaan dan penyempurnaan teori baru itu diakui !.
PADAHAL ITU SEMUA ,dibanding pencapaian logika,pola pikir dan rasionalitas telah dicapai umat manusia hingga detik ini sudah milyardan kali lebih maju.
Bukan lagi 1+1=2 !, tapi sudah hitungan tehnologi nano dan pemetaan komplit gen manusia !
Lantas apa hubungannya dengan bahasan kita kali ini ?
Seperti telah saya urai di gerbang sebelumnya.Semuanya tergantung kita semua. Kita yang berada di Eropa, Amerika, Asia Timur. Asia Selatan, Timur Tengah, benua afrika dan Australia.
Kita ingin dunia ini punya logika, pola pikir dan rasionalitas baru yang betul betul eksis.Kecerdasan yang sesuai dengan tahapan zaman modern kita. Sebagai jantung seluruh urat nadi kehidupan dunia ini.
KARENA KITA SEMUA SEKARANG SUDAH MEMILIKI REALITAS .Realitas yang sudah dinanti nanti sepanjang peradaban manusia !!!.
Realitas bahwa kita semua ingin selamat, kita semua ingin lestari, kita semua ingin hidup damai.
Bukan lagi realitas diatas dokumen dokumen. Bukan lagi realitas di podium podium. Bukan lagi realitas di Istana istana Presiden.
Biarlah segala sesuatu yang positip dan baru ini menjadi bagian dari kepentingan pikiran kita sehari hari.
Ya! Kepentingan pikiran setiap orang !.
Kita boleh kesulitan untuk hidup, kita boleh kekurangan dalam hidup, kita boleh punya masalah dalam hidup , kita boleh didera sakit penyakit .Tapi keyakinan bahwa kita adalah salah satu bagian kecil dari proses peradaban menuju zaman baru . Tak akan pernah hilang dari ingatan kita.
Bisakah kita semua seperti ini ???
DAMAI DI PIKIRAN………..
(GERBANG 6 )
Damai dipikiran .
Itulah moto perkumpulan ANAK ANAK CAKRAWALA DAMAI.
demikian juga judul gerbang ke 6.
Kenapa tidak damai dihati ?.
Karena kita semua tahu, hati seseorang sulit diukur, ditebak, diselami. Apalagi distrukturi !. Biarlah urusan hati menjadi rahasia yang bersangkutan dengan dirinya. Dan bila dia beragama menjadi rahasia pribadi dengan Tuhannya !.
Damai dipikiran .
Sebetulnya tak kalah indahnya dengan damai dihati. Apalagi bila kita punya keduanya, damai dihati dan pikiran !
Saya yakin, bila damai dipikiran ini ada disetiap insan diplanet ini. Tak perlu semuanya, cukup setengah nya saja. Maka budaya damai bakal menyelimuti seluruh muka bumi ini.Tak ada yang bakal bisa melawan bila budaya damai sudah melanda seluruh dunia.
Saya akan mengambil satu contoh aktual tentang belum adanya budaya damai didunia.
Sekarang dibanyak sekali politisi ,jendlar , para pemilik industri militer dan lingkarannya. Masih dipegang teguh filosofi agung zaman zaman dulu.Tapi filosofi itu jadi begitu populer setelah di tenarkan oleh seorang jendlar Prusia, lebih seabad silam. Namanya Jendlar Von Clawshevick.
Apa bunyi filosofi itu ??
JIKA INGIN DAMAI BERSIAPLAH PERANG !
Tak ada yang salah pada filosofi itu. Malah pada zamannya filosofi itu betul betul ampuh. Tentu sepanjang usia peradaban manusia , entah sudah berapa juta kali peperangan ,baik antar suku, ras, agama, kelompok dan kerajaan diseluruh dunia dapat dicegah , karena satu sama lain saling menyegani ! .Karena satu sama lain telah mempersiapkan perang dengan sebaik baiknya !
Tapi bagaimana zaman sekarang ?.
Amat jelas filosofi itu tak sejalan dengan konsep DAMAI DIPIKIRAN.
Selain telah menimbulkan pemborosan begitu banyak dana.Filosofi itu pada dasarnya membentuk atau melestarikan pikiran pikiran saling curiga, saling tidak percaya, saling menutup diri diantara masarakat bangsa bangsa. Yang pada ahirnya menutup semua peluang pembaharuan !
Kembali ke topik kita.
Siapkah kita melakukan pembaharuan ?
Seberapa besar pikiran kita mau menerima damai dipikiran ??
Bilapun menerima, apa artinya ?toh bagi dunia artinya kecil!
Jangan pernah bertanya itu.
karena sekecil dan sesimple apapun logika,pola pikir dan rasionalitas pikiran kita mau menerima Damai dipikiran itu adalah berguna.
Jangan pernah berpikir, apa artinya cuma sebatas pikiran, tanpa tindak lanjut tindakan.
Memang bila cuma sebutir pasir tak bakal jadi apapun !!! kecuali jadi debu !! NAMUN BILA BUTIRAN PASIR INI DIGABUNG DISELURUH PLANET INI BAKAL TERCIPTA SEBUAH BENUA, DARI SEBUAH BENUA AKAN LAHIR SEBUAH PLANET !!!DARI SEBUAH PLENET lahir segala sesuatunya !!!.(Ingat ungkapan SUARA RAKYAT ADALAH SUARA TUHAN di bahasan sebelumnya ! )
Betapa potensialnya daya dari sebuah pasir tersebut !!.
DAMAI DIPIKIRAN dalam diri kita masing masing adalah laksana sebutir pasir itu !!
Jadi janganlah pernah berhenti buat meneruskan pikiran baru kita ini!
Dari pikiran kecil terpendam di kepala, lambat laun tapi pasti akan berkembang menjadi sebuah budaya global atau universal. Bila sudah menyelimuti dunia ini, tak ada apapun bisa menghalangi !!
Pada saatnya. Akan sama terpatri dibenak setiap insan manusia diplanet ini seperti hitungan 1+1=2.
Tanpa keselamatan lambat laun dunia jadi tragedi !!!.
EFEK SATU DUNIA
(GERBANG 7 )
Sampailah bahasan di Gerbang 7 atau terahir.
Kenapa berjudul” Efek Satu Dunia ? “
Karena kita sekarang mau tak mau berpola pikir seperti itu.
Bila di bidang ilmu pengetahuan ( lingkungan hidup ) kita kenal istilah efek rumah kaca .Bahkan saya pernah memberi judul sebuah tulisan ” efek pikiran rumah kaca “
Sebetulnya dibidang hubungan antar bangsa ( khususnya dibidang politik internasional dan keamanan dunia )sekarang ada istilah EFEK SATU DUNIA !!Cuma belum populer.
Bila efek rumah kaca merupakan sebab akibat perbuatan kita mengeploitir kekayaan alam ,kemudian alam secara keseluruhan terpengaruh oleh exploitir tanpa terkendali itu.
Maka EFEK SATU DUNIA menyangkut sebab akibat kegagalan sistim global mengikat semua unsur didunia, kemudian tatanan global secara keseluruhan jadi terpengaruh !.
Itu bila efek negatipnya.
Sedangkan bila kita bicara efek positipnya.Efek Satu Dunia adalah akibat kita semua berkepentingan atas keselamatan alam planet ini, maka kita semua mesti berpijak pada pola pikir yang sama . Di tulisan lain saya pernah membahas ini dengan judul BLUE PRINT PIKIRAN.
Untuk bahasan pertama kita ke topik pandangan negatip dulu.
Kenapa dunia gagal mengikat semua unsur ada didunia ?
Siapa dan apa yang jadi kambing hitamnya ?
Benarkah atmosfir politik internasional masih didominasi hawa permusuhan ?, sehingga unsur keamanan tiap negri perlu mendapat perhatian lebih ? seperti zaman perang dingin 2 blok super power masih merajai pentas dunia beberapa dekade lalu !( ingat filosofi; Jika ingin damai bersiaplah perang ;telah disinggung di gerbang sebelumnya ))
Memang disana sini, bila ditinjau dari kaca mata regional masih ada daerah panas, seperti timur tengah, asia selatan, timur jauh dan beberapa wilayah lain.Namun dengan alasan apapun , tak ada fakta real konflik konflik tersebut berpotensi jadi masalah global. Ada pengamat berkata. sebetulnya banyak tangan tangan tidak pro perdamaian dunia menginginkan status quo ala perang dingin terus menghias pentas dunia. Kepentingan pihak pihak mana saja yang dimaksud tentu kita semua tahu dan maklum.
Jadi betapa sakitnya dunia kita masa kini. Tak berlebih bila kita menganggap, realitas negatip dunia masa kini, kebanyakan adalah REALITAS SEMU. Realitas usang yang sengaja dipertahankan dan dibikin bikin . Sungguh zaman multi realitas yang konyol dan memalukan !.
Sama seperti EFEK RUMAH KACA , efek ini bila dibiarkan tanpa pembenahan bakal memutar mundur tahapan REALITAS kemajuan peradaban telah dicapai sekarang.
Dan pada ahirnya menghancurkan tatanan realitas formal bahwa perdamaian model baru sudah dicapai dunia sekarang.Menjadi cuma berkekuatan diatas kertas kertas !!
Bukan mustahil lambat laun.Dunia kembali kezaman keemasan imperialisme, kolonialisme dan perlombaan senjata membabi buta!!!!Padahal untuk mencapai tingkatan realitas perdamaian dunia seperti sekarang perlu pengorbanan yang mahal, waktu yang lama dan tahapan yang sulit !
Istilah untuk menyebut situasi serba rumit itu.Sistim dunia dibelenggu lingkaran setan .
Padahal bila ada niat kuat. Sebetulnya bukan sesuatu yang sulit merubah suatu paradigma, apapun angker dan sakralnya .Contohnya, kasus bersatunya Jerman Timur yang komunis ke Jerman lainnya yang demokratis. Atau berubahnya Uni Soviet yang ultra komunis menjadi Rusia yang yang lebih “demokratis “
Apa Jerman Timur dan Uni Soviet sebelum terkena imbas perubahan kurang angker dan kokoh secara politik dan keamanan ( militer ) ???
Lingkaran setan yang harusnya makin mengusik pikiran kita semua.
Makin menyadarkan kita bahwa harus ada terobosan terobosan besar.
Untuk penutup bahasan ini, saya kembali ke unsur positif efek satu dunia.
Kepola pikir kita yang mengerucut, yaitu pola pikir global !
Saya memiliki sebuah kalimat bagus ; BILA DUNIA INGIN TERTIB , SEHAT DAN PANJANG UMUR BERUBAHLAH !

praktik meditasi untuk pemula


AKIBAT DARI SAMSKARA
Apakah Samskara itu ?
Ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu eksakta mengatakan setiap aksi ada reaksi. Spiritualiti mengatakan setiap pikiran atau tindakan yang dilakukan dengan menggunakan perasaan AKU atau kesadaran diri meninggalkan bekas sebagai kesan yang tidak kentara di dalam hati yang kemudian menjadi benih dari pikiran dan tindakan-tindakan di masa yang akan datang yang kembali menimbulkan kesan yang lebih banyak.  Mengulangi kesan-kesan yang sama menguatkannya menjadi keinginan-keinginan, sehingga kita menjadi budak dari samskara dan harus kembali dan kembali lagi sebagai manusia untuk membuang samskara tersebut. Tetapi ketika membuang samskara yang lama, kita menciptakan samskara yang baru. Disebabkan oleh lingkaran setan ini, perkembangan kita untuk mencapai tujuan akhir menjadi tertahan.
Jadi, tidak ada sistem sadhana yang tidak memberikan pemecahan bagi pertambahan samskara dalam bentuk selubung yang tidak terkira banyaknya mengelilingi jiwa manusia yang dapat menjauhkan kita dari tujuan akhir. Sampai hari ini Sahaj Marg mempunyai penopang, Master yang hidup dan kekuatan spiritualnya memberikan kita kesempatan untuk membersihkan diri dari samskara - asal kita bersedia untuk membuangnya.
Bagaimana dengan samskara yang baik? Dapatkah kita menyimpannya?
Tidak ada keragu-raguan, samskara yang baik, sebagai hasil dari perbuatan-perbuatan berjasa mungkin membawa kita kepada kehidupan yang lebih baik sebatas tingkatan manusia, tetapi tidak menolong kita untuk melepaskan diri dari kehidupan duniawi.
Menurut Babuji, samskara yang baik seperti sebuah kandang emas, tetapi meskipun demikian tetap merupakan sebuah kandang. Oleh karena itu perlu untuk membuang pikiran baik dan buruk, dosa dan kebajikan, surga dan neraka yang mana semua itu adalah konsep manusia, pikiran kita harus melebihi sifat dua macam tersebut atau pasangan yang berlawanan dan menghidupkan kembali pikiran kita dalam keTuhanan. Pemikiran yang lebih tinggi tersebut akan membuka pintu gerbang kepada suatu kehidupan yang lebih tinggi daripada kehidupan duniawi yang singkat, terbatas dan membatasi dalam banyak cara. Menurut Master, hanya spiritualiti dapat memprakarsai proses pengembangan diri dan pada akhirnya kebebasan dari perasaan hidup terbatas.
Apa praktek harian yang telah ditentukan untuk seorang pengikut?
Praktek ini terdiri dari 3 bagian :
            1). Meditasi di pagi hari
            2). Pembersihan di malam hari
            3). Doa malam sebelum tidur.

MEDITASI
Mengapa saya harus meditasi ?
Kata meditasi berarti terus menerus memberikan perhatian atau menghentikan pemikiran pada satu pokok pikiran. Master berkata (dan telah dibuktikan dalam pengalaman) bahwa kita menjadi apa yang kita pikirkan pada saat meditasi. Dengan kata lain kita memperoleh sifat dasar, kwalitas atau keadaan atas obyek yang kita meditasikan.
Oleh karena itu ketika kita meditasi pada sesuatu yang tidak kentara yaitu Tuhan, kita akan menghilangkan kekotoran kita dan mendapatkan kehalusanNYA dan kemudian menjadi seperti DIA. Hanya dengan demikian kita dapat menjadi satu dengan DIA, sehingga tujuan tertinggi dalam kehidupan, jadi memungkinkan untuk dicapai.. Dan ini hanya bisa didapat melalui praktek terus menerus meditasi setiap hari dengan ketaatan yang tulus ikhlas.
Bagaimana saya menyiapkan diri untuk meditasi harian saya ?
Cara menyiapkan diri untuk meditasi di pagi hari diberikan seperti di bawah ini :
(1)   Bangun sebelum matahari terbit.
(2)   Sikat gigi dan cuci muka.
(3)   Mandi jika kamu merasa kotor (disarankan bahwa kamu mulai meditasi sepagi mungkin tanpa menghabiskan waktu pada aktivitas-aktivitas rutin seperti minum teh, baca koran, olahraga dan sebagainya). 
(4)   Pakai pakaian yang longgar dan enak dipakai.
(5)   Tentukan satu waktu dan tempat khusus untuk meditasi setiap hari.
(6)   Beritahu anggota keluarga yang lain untuk tidak mengganggumu selama meditasi.
(7)    Mulailah dengan meditasi selama 30 menit. Tambah waktunya setelah kamu merasa cocok dan lakukan itu menjadi satu jam. Kalau kamu membuka mata sebelum waktunya, kamu dapat menutup matamu lagi dan meneruskan meditasi.
(8)   Duduk yang enak, santai tetapi punggung dan kepala tetap tegak. Kamu bisa duduk di lantai, di bangku, dengan punggung (bukan kepala) bersandar pada tembok. Kalau kepalamu tertunduk setelah kamu mulai meditasi (disebabkan karena kehilangan kesadaran), kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Tiduran tidak diijinkan karena terlalu mengasyikkan sehingga dapat membuat kamu tidur.
(9)   Harap dimengerti bahwa meditasi atas Tuhan yang ada di dalam hatimu adalah  pemujaan oleh karenanya mulai dengan doa dalam batin untuk meninggikan spiritual dengan hati penuh cinta dan pengabdian.
Bagaimana saya meditasi?
Tutup mata dan mulai dengan suatu anggapan bahwa Cahaya Tuhan hadir di dalam hati. Setelah itu duduk santai dengan suatu sikap melihat ke dalam diri. Ini mudah sekali.
Haruskah saya mengulang-ulang anggapan tentang Cahaya Tuhan ?
Tidak. Master berkata bahwa membawa anggapan tersebut satu kali pada saat mulai sudah cukup. Dengan anggapan tersebut, alam pikir bawah sadar dihubungkan dengan Tuhan yang ada di dalam hati selama seluruh periode meditasi. Alam pikir yang sadar mungkin mulai menghasilkan pikiran-pikiran lain, bayangan-bayangan dan sebagainya, tetapi kita dianjurkan untuk tidak memperhatikan hal-hal tersebut, karena ini adalah satu cara untuk membuang samskara.
Catatan : Mohon dimengerti bahwa dalam sistem ini tidak ada yang harus dikerjakan oleh akal setelah kita memulai meditasi - tidak ada konsentrasi atau pengulangan pemikiran seperti mantera. Sistem sebelumnya yang rupanya menggunakan metode seperti itu hanya untuk mencegah atau menahan pikiran-pikiran dengan akibat bahwa samskara tidak dapat menemukan jalan keluar dan terus menciptakan malapetaka di dalam diri.
Bagaimana mungkin meditasi tanpa akal kita melakukan suatu pekerjaan (selama meditasi)?
Master berkata bahwa pikiran sangat kuat. Oleh karena itu anggapan belaka pada saat mulai bahwa Cahaya Tuhan ada di dalam hati, sangat kuat untuk menghubungkan akal kita dengan Tuhan. Ini bisa dibandingkan dengan menyalakan sebuah lampu. Sambungannya akan terus menerus menyala dan tidak perlu harus terus menerus menekan tombolnya.
Haruskah saya mencoba untuk melihat Cahaya Tuhan selama meditasi ?
Tidak. Master berkata bahwa Tuhan terlalu halus untuk ditangkap pancaindera. Meskipun cahaya masih bersifat kebendaan tetapi Tuhan tidak harus dilihat seperti sinar matahari, sinar bulan atau sinar listrik. Karena akal manusia tidak bisa meditasi pada sesuatu yang kosong. Kita menerima Tuhan sebagai suatu anggapan yang abstrak (tidak nyata) dan meditasi atas anggapan tersebut dan itu memberi gambaran yang jelas atas kesadaran kita di dalam diri.
Jadi apa yang harus saya lakukan selama meditasi ?
Master berkata, kamu tidak harus mekukan apa-apa, kamu tidak aktif, kamu pasif selama meditasi. Meditasi menurut Master adalah suatu keadaan menunggu kebesaran Tuhan masuk kedalam diri kita. Ini cara yang paling alami, karena tidak ada aktivitas jasmani atau rohani dan kita mengambil suatu sikap menyerah (pasif seluruhnya) kepada Tuhan dan menunggu DIA di dalam hati kita.
Sahaj Marg mengajari kita bahwa dalam  perjalanan spiritual, tidak ada tempat untuk berdua  - dirimu dan Tuhan. Selama kamu menyadari dirimu sendiri yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan bahkan ketika melakukan meditasi dan sadhana, DIA tidak dapat hadir di sana. DIA tentu saja bersama kamu ketika kamu lupa dengan dirimu sendiri dan ini yang akan dicapai melalui meditasi Sahaj Marg dimana kita mengabaikan diri sendiri sehingga dengan cepat sekali ditimbulkan kekuatan spiritual (pranahuti) dari Master.
Apa yang harus saya lakukan jika pikiran-pikiran saya mengganggu selama meditasi ?
Kamu harus menganggapnya seperti pikiran tersebut adalah pikiran orang lain. Jadi ciptakan jarak antara dirimu dengan pikiran yang muncul. Master menasehati kita untuk memperlakukannya sebagai tamu yang tidak diundang - mereka akan pergi kalau kamu tidak memberikan perhatian pada pikiran tersebut. Kalau kamu mendapatkan dirimu terlalu terlibat dengan pikiran tersebut, kamu disarankan untuk perlahan-lahan melepaskan pikiran tersebut dan membawanya kembali ke suasana awal (sebelum mulai meditasi), ucapkan lagi Cahaya Tuhan  ada di dalam hatimu. Tetapi ini tidak boleh dilakukan berulang-ulang seperti mesin karena akan berubah menjadi mantera.
Bagaimanapun ini hanyalah persoalan yang sementara bagi abhyasi baru. Dengan meditasi setiap hari secara teratur dan sitting secara periodik dengan Preceptor, kamu akan menemukan bahwa pikiran tersebut kehilangan bebannya dan berhenti untuk mengganggu perasaan yang menginginkan ketenangan dan kesentosaan di dalam hatimu.

PEMBERSIHAN DI MALAM HARI
Apa yang dimaksud dengan cleaning(membersihkan hati) ?
Seperti telah disebutkan sebelumnya, kita memerlukan campur tangan Master atau Preceptor untuk membuang samskara lama yang sebenarnya bukan apa-apa, tetapi kesan secara kejiwaan telah berubah menjadi keinginan-keinganan. Dan menjadi tanggung jawab abhyasi untuk mencegah terbentuknya samskara baru dengan menjalankan metode cleaning yang ditentukan oleh Master. Melalui cleaning diri sendiri setiap malam, seorang abhyasi akan mampu membuang semua kesan yang terbentuk di dalam hatinya selama satu hari sebagai hasil dari pengaruh timbal  balik dengan lingkungan melalui pikiran dan perasaannya.
Jam berapa saya harus melakukan cleaning?
Setelah pekerjaan hari itu selesai, ketika kamu kembali pulang ke rumah kamu bisa santai serta menyegarkan dirimu dan duduk untuk cleaning. Ini paling baik dilakukan ketika kamu secara mental siap dan tidak mengantuk.
Berapa lama saya harus melakukan cleaning?
Setengah jam adalah waktu yang ditentukan.
Bagaimana sikap tubuh yang ditentukan?
Sama seperti ketika meditasi, posisi tubuh yang cocok dan enak untuk meditasi.


Apakah perbedaan antara meditasi dan cleaning? 
Mudah sekali. Ketika meditasi kita tidak melakukan apa-apa dengan pikiran kita. Saat itu kita mengambil suatu sikap mengundang keagungan Tuhan masuk kedalam hati dan kemudian tunggu.
Ketika cleaning, kita menggunakan kekuatan niat untuk mengeluarkan kepalsuan dari dalam hati kita. Ini adalah suatu proses dimana kitanya aktif, tidak pasif seperti waktu meditasi.
Bagaimana metode untuk cleaning?
Tutup matamu dan mulai dengan suatu niat (tidak perlu harus diulang-ulang terus) bahwa semua kesan, kepalsuan, kekotoran, kegelapan dan sebagainya sedang meninggalkanmu dari belakang punggung dalam bentuk asap atau uap. Kemudian anggap bahwa aliran suci dari Tuhan  sedang masuk ke dalam hatimu, melalui hati Master ke dalam ruangan kosong yang telah diciptakan dengan keluarnya kepalsuan dan kekotoran. Setelah melakukan ini selama 1/2 jam kamu harus merasa jiwamu ringan sebagai bukti bahwa hatimu bersih.
Haruskah saya melihat kepalsuan/kekotoran meninggalkan saya selama cleaning?
Tidak. Kita tidak diharapkan mencoba untuk melihatnya. Master berkata kita tidak harus terlibat dengan atau meditasi atas kepalsuan/kekotoran tersebut tetapi secara mental menghilangkan semuanya keluar.
Haruskan saya mengingat atau meninjau kembali semua yang terjadi selama hari itu dan kemudian membuangnya selama proses cleaning?
Master memperingatkan kita untuk tidak melakukan hal tersebut sebab mengingat-ingat atau meninjau kembali, hanya akan menguatkan kesan yang akan kita buang. Master berkata bahwa memberikan perhatian kepada kekotoran hanya akan menjadikannya lebih kuat.
Andai saya kehilangan kesempatan untuk melakukan cleaning yang secara rutin dilakukan setiap malam, apa yang harus saya lakukan?
Ini bisa dilakukan sebelum kamu meditasi doa malam hari. Tapi andai ini juga tidak memungkinkan, kamu harus melakukan cleaning 10-15 menit di pagi hari sebelum kamu mulai meditasi.

Meditasi - doa pada saat akan tidur
Apakah itu doa?
Doa adalah suatu permohonan yang ditujukan kepada Tuhan, Master yang suci di dalam hatimu.
Apakah tujuannya berdoa?
Menurut Babuji, doa adalah memohon dan meditasi adalah memperoleh.
Secara normal, orang biasanya berdoa untuk memohon hadiah-hadiah materiel dari Tuhan. Tetapi doa yang ditulis oleh Babuji bukan memohon, ini hanya menguatkan orang-orang yang mencari spiritual agar menaruh kepercayaan seluruhnya kepada Master yang suci untuk perkembangannya menuju tujuan mencapai DIA. Oleh karenanya ini adalah doa tertinggi yang tidak memohon hadiah atau kebaikan apapun, tetapi memungkinkan seseorang untuk menyerahkan dirinya menjadi satu dengan Tuhan.

Persoalan-persoalan kehidupan duniawi
Apakah sadhana Sahaj Marg akan memperbaiki kesehatan fisik saya?
Master berkata, karena dalam sistem ini pikiran disucikan dan makin lama makin teratur, banyak abhyasi yang menderita dari penyakit ingatan sebagai akibat dari ketegangan mental(psychosomatic), akan menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Karena kita meditasi pada hati dan membuang semua kekotoran dari hati, Master berkata bahwa hasilnya adalah menyenangkan hati secara biologis juga.
Selama meditasi, seorang abhyasi merasakan kesadarannya beralih dari tubuh dan merasakan Tuhan di dalam dirinya dan ini menghasilkan keringanan atas tekanan fisik. Bernapas, kecepatan denyut nadi dan juga tekanan darah nampak jelas turun. Ini benar-benar keadaan relax jasmani selama meditasi, menghemat tenaga tubuh dan keadaan ini berlanjut terus bahkan setelah selesai meditasi kalau seorang abhyasi secara teratur melakukan sadhananya.
Dapatkah orang cacat tubuh atau orang yang keterbelakang pertumbuhan jiwanya diikutsertakan dalam meditasi?
Tidak ada masalah jika cacatnya hanya secara fisik. Tetapi orang yang keterbelakang jiwanya, kurang persyaratannya yaitu pikiran yang normal untuk meditasi- jadi sayang tidak bisa melakukan meditasi.
Akankah semua persoalan duniawi saya hilang kalau saya menjalankan sadhana secara teratur?
Kita harus mengetahui bahwa tujuan dari sadhana adalah untuk mencapai DIA dan bukan untuk membuang persoalan-persoalan dalam kehidupan. Persoalan duniawi hanya menguji dan menguatkan kita dan ini sangat dibutuhkan untuk perkembangan spiritual.
Tetapi suatu kenyataan bahwa banyak persoalan yang muncul disebabkan oleh keegoisan kita. Melalui cleaning samskara-samskara tersebut dibuang.
Bagaimanapun Master berkata bahwa beberapa samskara tetap tinggal karena beberapa persoalan dan tantangan dibutuhkan untuk perkembangan spiritual kita, sepanjang kita dapat menjalaninya. Oleh karenanya persoalan tersebut harus diterima sebagai berkat dari Tuhan.
Sadhana oleh karenanya menguatkan kita untuk menghadapi persoalan hidup di dalam jalan Master dan kita tidak di harapkan untuk melarikan diri dari persoalan tersebut.

Petunjuk Untuk Maju
Bagaimana seorang pengikut baru dari Sahaj Marg dapat dengan cepat berkembang?
Saya menganjurkan beberapa langkah sebagai berikut :
1.      Teratur dalam abhyas harian : meditasi, cleaning dan meditasi-doa. Untuk kebaikanmu tinggalkan rasa malas, mental inertia, kecenderungan untuk menunda dan perkuat tenaga dan semangat yang besar untuk melakukan sadhana.
2.      Terima sitting pribadi dan hadirilah sitting kelompok yang dipimpin oleh preceptor.
3.      Baca 13 Usulan Sahaj Marg berulang-ulang dan coba untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Kembangkan ingatan terus kepada Master (constance remembrance) seperti telah dijelaskan di muka.
5.      Pada saat hatimu bergejolak, atur pertemuan dengan Master dan habiskan waktumu bersamanya. Kembangkan kebiasaan menulis padaNya sehubungan atau mengenai abhyasmu, perkembangan, pengalaman dan persoalan-persoalan spiritualmu. Kamu bisa mendapatkan jadwal perjalanan Master dan alamat rumahnya dari preceptormu.
6.      Tulis terus buku harianmu dan buat catatan kecil setiap hari mengenai praktek, pengalaman, kondisi pikiran, perhatikan perubahan yang terjadi, persoalan yang dihadapi dan sebagainya. Baca autobiografi Babuji sebagai panduan.
7.      Jangan berkecil hati karena kesalahan dan kekuranganmu. Babuji menganjurkan, “Perlakukan kesalahan tersebut sebagai kesalahan Master dan teruskan abhyasmu” Hasilnya kamu akan bertambah baik dari hari ke hari.
8.      Kembangkan kewaspadaan dan perhatikan setiap pikiran dan perbuatan. Ini akan mencegah kamu tergelincir ke dalam kesalahan dan memungkinkan kamu secara sadar bersikap baik dan akan ada kemajuan bagi dirimu sendiri.
9.      Pikiran yang tidak perlu dan pembicaraan yang menyimpang akan menghamburkan tenagamu serta mengalihkan dari tujuanmu. Jadi coba untuk menjaga ketenangan keduanya di dalam dan di luar dengan menghubungkan pikiranmu dengan Tuhan sepanjang waktu. Master berkata bahwa abhyasi yang memelihara ketenangan (kecuali jika berbicara diperlukan atau dalam tugas yang digariskan) yang akan menghasilkan perkembangan.
10.  Swami vivekananda berkata bahwa Kerajaan Surga bukan untuk orang yang berhati lemah. Babuji Maharaj berkata bahwa dalam spiritualiti kita harus seperti singa, bangga melakukan sadhana di bawah guru yang cakap, berani menghadapi hal-hal yang aneh dan rintangan-rintangan serta percaya dapat mencapai tujuan. Jadi perasaan negatif seperti takut, ragu-ragu, ketidak pastian dan kekurang percayaan dalam diri sendiri harus secara sadar di hindari.
Catatan:
Buku kecil ini dimaksudkan sebagai pengenalan terhadap meditasi dalam sistem Sahaj Marg. Ketika kamu meneruskan praktek dalam sistem ini kamu perlu untuk berhubungan dengan Master dan Preceptor untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang muncul sebagai pengalamanmu ketika meditasi, perubahan yang terjadi di dalam kamu dan persoalan yang dihadapi dalam abhyas. Kamu mungkin ingin memperoleh satu set buku yang diterbitkan oleh misi kita. Buku tersebut dapat dibaca berulang-ulang untuk membantu menjelaskan kehalusan dari spiritualiti.

13 Usulan Sahaj Marg
1.      Bangun pagi sebelum matahari terbit (subuh).
2.      Bawa doa dan pujianmu pada jam tertentu, sebaiknya sebelum matahari terbit, duduk dalam satu sikap yang tetap. Miliki tempat dan bangku terpisah untuk berdoa. Kesucian pikiran dan tubuh harus sungguh dianut. Mulai pujamu dengan sebuah doa untuk meninggikan spiritual dengan hati penuh cinta dan kesetiaan.
3.      Tentukan tujuanmu harus sepenuhnya menjadi satu dengan Tuhan. Jangan berhenti sampai tujuanmu tercapai.
4.      Menjadi polos dan sederhana yang serupa dengan alam
5.      Jujur. Terima semua penderitaan sebagai berkah dari Tuhan untuk kebaikanmu dan berterimakasihlah.
6.      Anggap semua orang sebagai saudaramu dan perlakukan mereka seperti dirimu.
7.      Jangan dendam pada kesalahan yang dilakukan orang lain. Terima mereka dengan rasa terima kasih sebagai hadiah dari surga.
8.      Dengan gembira makan dalam ingatan terus kepada Tuhan apapun yang kamu peroleh yang didapat karena penghasilan yang jujur dan saleh.
9.      Bentuk kehidupanmu untuk membangkitkan perasaan cinta dan kesalehan dengan orang lain.
10.  Pada saat akan tidur, rasakan kehadiran Tuhan, minta maaf untuk perbuatan salah. Minta ampun dengan perasaan sungguh-sungguh, memutuskan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
11. Jangan mengharap, sehingga kamu tidak akan kecewa.
12. Jangan menyalahkan orang lain, salahkanlah kamu sendiri.
13. Cintailah semua yang Dia cintai.



Praktek Harian
PAGI
Meditasi :
Duduk meditasi paling sedikit 30 menit ( lambat laun dalam beberapa bulan tambah waktunya menjadi 1 jam ) pikirkan bahwa Cahaya Tuhan ada di dalam hatimu. Lakukan itu dengan tenang, secara mudah dan alami tanpa memaksakan pikiranmu. Tidak apa-apa jika kamu tidak dapat melihat cahaya di sana. Mulai dengan anggapan belaka, Cahaya Tuhan ada di dalam hatimu, dan duduk meditasi dalam satu sikap dengan perhatianmu terarah ke dalam hati secara alami tanpa usaha untuk berkonsentrasi. Coba untuk tidak menghiraukan pikiran-pikiran yang muncul pada saat itu.

MALAM
Cleaning ( Pembersihan ) :
Duduk selama 30 menit (setelah pekerjaan hari itu selesai) dengan anjuran bagi dirimu sendiri bahwa semua kerumitan dan kepalsuan termasuk kekotoran, kegelapan dan sebagainya sedang keluar dari seluruh sistem tubuhmu melalui punggung dalam bentuk asap atau uap. Secara mental anggap bahwa Keagungan Tuhan dari Master masuk ke dalam ruang kosong yang telah disiapkan dengan telah keluarnya kepalsuan dan kekotoran. Jangan meditasi terhadap semua ini karena kita ingin membuang semuanya keluar. Hanya menyikatnya semua keluar.

SEBELUM TIDUR
Doa :
O, Master !
Engkaulah yang menjadi tujuan nyata dari kehidupan manusia
Tetapi kami di sini masih menjadi budak atas keinginan-keinginan kami.
Meletakkan penghalang bagi kemajuan kami.
Master, hanya Engkaulah Tuhan dan yang Berkuasa
Untuk membawa kami mencapai tujuan tersebut.